“Kewanian”, Tim TRC BPBD Buleleng Mesti Lakukan Ini

MENARI - Anggota TRC BPBD Buleleng memohon kesembuhan sambil menari pasca-kewanian di Desa Pegadungan, Sukasada.
Singaraja, DenPost
Empat orang dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Buleleng mengalami “kewanian” pascamenangani pohon wani tumbang di Desa Pegadungan, Sukasada beberapa hari lalu. Selasa (7/1) pagi,  tim TRC kembali ke Desa Pegadungan. Keberangkatan mereka bukan untuk menangani bencana pohon tumbang lagi, melainkan untuk meminta pengobatan atas anggotanya yang terkena sakit “kewanian”. Sakit ini dialami empat anggota TRC BPBD Buleleng yakni I Wayan Duala Arsayasa, Agra Kusuma, Edy Purnawirawan dan Nyoman Dharma Kurniawan.
Wayan Duala menjelaskan, dua hari setelah menangani pohon wani tumbang, gatal-gatal disertai rasa panas mulai muncul. Upaya penanganan secara medis pun tak berhasil menyembuhkan sakit tersebut. Percaya atau tidak, untuk menyembuhkan sakit ini konon si penderita harus menari di bawah pohon wani dengan mengitarinya sebanyak tiga kali. Mendengar kabar itu, Selasa pagi, tim TRC langsung berangkat menuju Desa Pegadungan. Sesampainya di lokasi, empat orang yang menderita sakit itu langsung memohon doa lalu secara bergantian menari mengelilingi pohon wani dengan menggunakan topi kukusan bambu. Ajaibnya, setelah melakukan itu, gatal-gatal yang dialami mulai mereda dan rasa panas langsung berkurang.
“Percaya atau tidak, intinya gatal-gatal dan rasa panas sudah mendingan,” ungkapnya.
Sementara itu, Perbekel Desa Pegadungan, Kadek Sudiara, mengatakan, sakit “kewanian” itu disebabkan karena orang tersebut tidak cocok terpapar pohon wani. Mitos yang dipercaya oleh masyarakat, orang yang sakit harus mengitari pohon wani sebagai penawar sakit agar sembuh.
“Ada mitos yang dipercaya kalau kewanian itu penangkalnya harus memohon di pohon wani itu sambil menari mengitarinya,” jelasnya. (118)
Baca juga :  Limbah Berbau Ganggu Wisatawan di Lovina

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini