Wisatawan Tiongkok Batalkan Kunjungan ke Bali, Begini Prediksi Kadisparda

1
17
I Putu Astawa

Renon, DenPost

Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) Bali, I Putu Astawa, mengakui bahwa terjadi sejumlah pembatalan kunjungan ke Bali dari Tiongkok. Ini menyusul kabar santer soal virus Corona di sejumlah negara, yang berasal dari Wuhan, Tiongkok. Ia menekankan, pembatalan tersebut bukan karena Pemerintah Provinsi Bali membatasi kunjungan dari Tiongkok, namun ini merupakan inisiatif Pemerintah Wuhan, Tiongkok untuk mengantisipasi penyebaran virus mematikan tersebut.

 

Baca juga :  208 ABK Datang Lagi, 85 Non-Bali Pulang Lewat Bandara

“Untuk Bali memang ada cancel (pembatalan), karena memang dari Pemerintah Wuhan sendiri mengisolir warganya berpergian keluar,” ujarnya saat ditemui Senin (27/1) di Praja Saba, Renon. Ia memprediksi pembatalan tersebut akan mengganggu kestabilan akomodasi pariwisata di Bali. Itu dikarenakan kunjungan wisatawan Tiongkok berada di posisi signifikan dengan lama menginap empat hingga lima hari, atau tertinggi kedua setelah kunjungan Australia.

 

“Kalau secara logika, cancel tentu akan berdampak ekonomi, akan hilang kunjungan ke restoran penginapan, travel agen. Namun kita berharap hal ini tidak lama,” paparnya. Kata dia, pemerintah tetap menaruh khawatir terhadap isu internasional tersebut apabila ini berlangsung lama. Untuk itu, Pemprov Bali kini fokus terhadap upaya pencegahan di bandara. (wir)

Baca juga :  Optimalkan Kuliah Daring, Unud Salurkan BLT

 

1 Komentar

  1. *Sama sama isu virus, di China jadi gerbang Surga, di Indonesia jadi seperti dalam api neraka*
    Lihatlah siaran di TV China via parabola atau Via YouTube, maka berita ttg covid-19 justru mempunyai efek yg jauh sangat berbeda dengan di negara +62 tercinta ini.
    Aneh memang karena virusnya sama yang membedakan cuma bahasanya saja, suku dan agama bisa sama, apa yang di Indonesia ada, itu juga ada di China.
    Di sini pemberitaan di media massa dan sosmed cenderung bernuansa negatif, misalnya brp banyak korban, pasar modal drop brp poin, rush di pusat perbelanjaan dll.
    Media di negara Tirai Bambu juga mengulas covid-19 tapi dengan kemasan yg sangat berbeda sehingga hasilnya juga bagai bumi dan langit dgn di negara kita. Humanisme ditonjolkan di China, sementara politik dan agama sangat kental diperlihatkan di Indonesia.
    China juga punya korban jiwa akibat virus covid-19 tapi yang disoroti adalah kerja keras para tenaga medis yg bekerja keras tanpa kenal waktu di garis depan, jauh dari keluarga bahkan kadang harus rela meregang nyawa. Seorang suami yang setia menemani sang istri yang terkena covid-19 walaupun sang suami terpaksa mengenakan “protection gear” lengkap, atau seorang anak yang menyuapi kedua orang tuanya dengan berbekal masker di wajahnya. Sementara di Indonesia, media menyoroti ungkapan yang mengaitkan virus dengan agama tertentu. Penderita covid-19 yang namanya diexpose langsung dibuatkan narasi latar belakang dengan memanfaatkan fantasi pembaca masing masing, belum lagi pemerintah daerah ada yang melakukan tindakan yang tak selaras dengan pusat, yang malah menimbulkan kegalauan dikalangan masyarakat.
    Ketika media di sini ramai2 memberitakan rush di pusat perbelanjaan, media di Tiongkok justru menyoroti warga Wuhan yg berbondong2 menjadi relawan dgn apa yg mereka miliki. Salah satu yg bikin trenyuh adalah ketika seorang kakek berusia 80an thn yg ingin ikut mendaftarkan diri sebagai relawan. Terlihat bbrp anak cucunya berusaha mencegah niat sang kakek, namun apa yang diucapkan sang kakek membuat mrk mengurungkan niat untuk melarangnya. “Seumur hidup ini saya sudah menikmati begitu banyak dari negara ini. Sekarang saya punya kesempatan utk berbakti pada negara, mengapa kalian menghalangi saya? Saya lebih baik mati saat melayani orang lain daripada mati di rumah jompo.”
    Ketika indonesia mengulas berita kita cenderung menutup diri dari negara lain, China menerima bantuan tenaga medis dari Jepang, USA dan beberapa negara di eropa ketika negara tersebut menderita akibat covid-19. China yang sudah mulai bisa “berdiri” setelah warganya banyak yang sembuh, mulai mengirimkan tenaga medisnya ke Jepang, Irak dan beberapa negara di Eropa untuk membantu mereka, tanpa mengingat masa lalu apa yang pernah terjadi diantara mereka.
    Hal yang membuat rasa haru tentunya adalah relasi China dan Jepang yang sangat kelam di masa lalu, namun tidak menghalangi mereka untuk saling membantu membangun kemanusiaan.
    Semoga kita bisa meneladani kisah-kisah inspiratif seperti ini ketimbang sibuk mencari keuntungan atau menghakimi sesama.
    Media indonesia harus belajar banyak dari China. Lebih baik mereka menjadi Relawan dalam mencari berita tentang kemanusiaan ketimbang mencari berita hanya untuk sekedar mencari sensasi dan rating…
    Semoga…
    Belajar dari sini. Jgn malah membesarkan dan saling menyalahkan. Indonesia bisa lawan virus corona

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini