Babi Mati di Badung Capai 598, Peternak Rugi Cukup Besar

JAGA KANDANG - Para peternak mesti rajin menjaga kandang agar jangan sampai babi-baiterjangkit penyakit misterius. DenPost/antarini

Dauh Puri, DenPost

Sejak  Selasa (28/1) hingga Jumat (31/1), Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Bali tidak lagi mendapat laporan soal babi mati. Perkembangan ini diperoleh dari 26 petugas lapangan yang ditempatkan di kantong-kantong temuan babi mati. “Itu yang saya yakini bahwa data informasi itu sebagai rujukan,” ujar Kabid Produksi dan Pembibitan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali IGK Nata Kesuma  pada Jumat.

Sebelumnya, puncak kematian babi secara misterius terjadi pada Senin (20/1/2020) yakni sebanyak 204, kemudian menurun pada hari berikutnya. Nata Kesuma menyebutkan, saat ini tercatat 888 ekor babi yang mati mendadak. Temuan tersebut paling banyak di Kabupaten Badung sejumlah 598 ekor dengan populasi berjumlah 1.651. Bila dirata-ratakan, satu ekor babi yang mati seharga Rp2 juta, maka kerugian total peternak mencapai Rp1,6 triliun. “Yang jelas itu (penyebab kematian babi). Penyebarannya cukup cepat, sehingga penanganannya juga penanganan wabah. Jadi biosekuriti menjadi rujukan, kemudian pengetatan lalu lintas, pemberian pakan dengan sumber yang jelas,” ungkapnya.

Baca juga :  Pasien Sembuh Covid-19 Lampaui Kasus Positif

Setelah Badung, babi mati juga terjadi di daerah lain seperti di Tabanan yakni 219 ekor, di Denpasar sebanyak 45 ekor, di Gianyar sebanyak 24 ekor, Bangli dan Karangsem masing-masing ditemukan satu babi mati mendadak. Sedangkan Buleleng, Jembrana dan Klungkung, nihil temuan. “Kasus-kasus di beberapa lokasi kematian ini (babi) sebetulnya terjadi di peternakan yang biosekuritinya rendah. Secara teknis, penyaluran penyakit ke tempat itu,” tutur Nata Kesuma.

Dibandingkan jumlah populasi babi di Bali yang mencapai 792.405 ekor, dia menilai jumlah kematian babi sebanyak 888 ekor ini relatif rendah, sehingga tak akan mengganggu ketersediaan daging babi menjelang hari raya Galungan. Untuk itu Nata Kesuma berharap agar peternak tidak terprovokasi dengan informasi yang tidak jelas, sehingga pat-cepat menjual ternak. “Jangan sampai menimbulkan dampak psikologis. Peternak sudah rugi, padahal babinya tidak ada masalah,” bebernya. (wir)

Baca juga :  Pelanggaran Kembali Meningkat, Tim Yustisi Minta Warga Sadar Prokes