Puluhan Sapi Mati di Desa Ulian, Kintamani

Puluhan Sapi Mati di Desa Ulian, Kintamani
PERIKSA DAGING - Warga memeriksa daging sapi yang mati mendadak di Desa Ulian, Kintamani, Bangli. DenPost/ist

Kintamani, DenPost

Puluhan sapi di Desa Ulian, Kintamani, Bangli, mati mendadak selama hampir kurun waktu sebulan terakhir ini. Hingga sekarang belum diketahui secara pasti penyebab sapi-sapi tersebut kena gerubug (wabah).

Perbekel Ulian, I Wayan Berana, Senin (3/2/2020) menyebutkan dalam kurun sebulan ini ada 30 sapi peliharaan warga yang mati mendadak dan misterius. Dikatakan mendadak, lantaran sapi-sapi tersebut tak memperlihatkan tanda sebelum mati. “Pagi hari dikasi pakan, sore harinya mati. Ada juga yang menggigil, besoknya saat ditengok, malah mati. Sekarang mulai mereda. Hanya Januari lalu yang banyak. Pada Februari sekarang belum ada,” ungkap Berana.

Baca juga :  Diguyur Hujan, Tembok Rumah Warga Ambrol

Pihaknya sudah melaporkan kejadian itu ke Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli. Petugas pun sudah turun ke lokasi, namun hingga sekarang belum diketahui penyebab mati sapi-sapi milik warga. Dengan kondisi ini, petani/peternak sapi di Ulian buru-buru menjual sapi mereka secara dini. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kerugian. “Yang mati ada yang dikubur dan ada yang dijual. Kalau dijual, hanya laku Rp500 ribu. Yang hidup dijual cepat-cepat, dengan harga murah,” sebut Berana.

Dari yang biasanya sapi dewasa dihargai Rp11 juta. Lantaran dijual dini, maka hanya dihargai Rp8 juta.

Baca juga :  Pura-pura Belanja, Beras 10 Kg Dibawa Kabur

Dimintai konfirmasi di tempat terpisah, Kepala Dinas PKP Bangli I Wayan Sarma mengungkapkan kejadian sapi mati mulai 31 Desember 2019. Namun baru dilaporkan 4 Januari 2020. Sarma membantah jika kematian puluhan sapi itu secara mendadak. “Terjadi di Ulian saja, sedangkan di desa tetangga tidak ada. Sesungguhnya sejak dilaporkan, kami sudah beberapa kali turun ke lapangan. Terakhir sepuluh hari yang lalu bersama Balai Besar Veteriner Denpasar,” bebernya.

Terkait kejadian ini, pihaknya mengaku menyarankan semua warga yang memelihara sapi agar tidak langsung memberikan pakan hijau (rerumputan), namun menunggu rumput layu dulu. Untuk pengambilan sampel sudah dilakukan sehari setelah laporan diterima. Hasilnya, tidak ada tanda mengarah ke penyakit tertentu.

Baca juga :  Sudiana Nekat Bunuh Diri, Diduga Ini Penyebabnya

Lantas apa yang menjadi pemicu puluhan sapi itu mati? Ditanyakan demikian, Sarma mengaku bahwa semua sapi itu mengalami tifani atau perut kembung. “Ada kerumunan lalat, diduga akibat menurunnya nafsu makan mereka akibat gangguan fisik. Kalau rumput beracun tidak, tapi kemungkinan akibat tifani akibat rumput yang masih berembun. Akibatnya, sapi mengalami penurunan daya tahan tubuh,” jelasnya. (128)