Puas Membunuh Hanya Untuk Lampiaskan Dendam

Puas Membunuh Hanya Untuk Lampiaskan Dendam
BB DAN TERSANGKA -- Wakapolresta Denpasar AKBP I Wayan Jiartana memperlihatkan barang bukti (BB) dan tersangka Sakim Fadillah dalam acara jumpa pers di Polresta Denpasar, Jumat (7/2/2020). DenPost/wiadnyana

Padangsambian, DenPost

Wajah tersangka Sakim Fadillah (39) terlihat pucat saat digelandang dari ruang penyidik Satreskrim Polresta Denpasar, Jumat (7/2/2020). Pria yang bekerja sebagai pengemudi ojek online ini mengaku puas setelah memukul kepala Senawati Candra (55) menggunakan paving block.

“Saya saat itu (usai memukul kepala dan wajah korban dengan batu) merasa puas karena sakit hati saya terlampiaskan. Tapi kini saya menyesal,” ucap pria tiga anak ini dengan nada agak meninggi.

Sedangkan Wakapolresta Denpasar AKBP I Wayan Jiartana mengatakan tersangka Sakim menghabisi korban yang merupakan kolektor barang antik itu dalam rentang waktu kurang dari 15 menit. “Korban mengalami enam luka di bagian kepala dan wajah. Tersangka memukul korban dengan paving block berulang kali,” tegas perwira polisi asal Peguyangan, Denpasar Utara ini.

Menurut Jiartana, setelah diperiksa intensif, tersangka yang kos di Jalan Pulau Salawati, Denpasar, itu mengaku menghabisi nyawa korban karena sakit hati dan dendam. Sejak kenal dengan anak korban, Andi Cahyadi (34), sekitar dua tahun lalu, tersangka sering dihina dan diejek korban seperti dibilang iblis, dukun, dan kata-kata kotor lainnya. “Korban tidak suka jika anaknya bergaul dengan tersangka. Makanya korban sering memarahi tersangka tanpa alasan jelas,” beber Wakapolresta.

Baca juga :  PPDN Masuk Bali Tak Lagi Wajib PCR

Tersangka Sakim dan Andi selama ini sama-sama beternak ayam aduan jenis cemani. Biasanya ayam-ayam itu dijual ke penggemar ayam lainnya. “Lantaran sering dimarahi korban, belakangan ini tersangka jarang ke rumah korban. Kalaupun ke sana, dia hanya bertemu dengan Andi di depan pintu gerbang. Biasanya Andi yang lebih sering ke rumah tersangka untuk membahas masalah ayam,” beber AKBP Jiartana.

Mengenai kronologi pembunuhan itu, dipaparkan bahwa pada Rabu (5/2/2020) sekitar pukul 10.00, tersangka Sakim datang ke rumah korban (Senawati) di JalanYani utara Gang Merpati, Peguyangan, Denpasar Utara, dengan mengendarai Honda Beat. Dia saat itu janjian dengan Andi. Mereka mengadu ayam di Jalan Selayar, Denpasar.

 

Usai mengadu ayam, tersangka Sakim dan Andi kembali ke rumahnya. Ketika itu Andi pergi ke warung membeli rokok. Sedangkan tersangka menyelinap masuk ke rumah Senawati. Saat itulah tersangka melihat Senawati duduk di kursi goyang di teras rumah. Spontan tersangka mengambil paving block di halaman rumah lalu dipakai memukul kepala pemilik toko bangunan UD Maju Djaya Gemilang itu. Begitu dipukul, korban berusaha melarikan diri ke dalam kamar. Tersangka terus mengejar dan kembali berkali-kali memukul kepala korban dengan batu dan botol parfum hingga korban terkapar di lantai kamar.

Baca juga :  Kritisi Ranperda Penyertaan Modal, Pansus X Tanyakan Ini

Setelah menghabisi nyawa kolektor barang antik tersebut, tersangka Sakim mencuci batu, lalu membuang ke lahan kosong di sebelah timur TKP. Tersangka juga sempat mencuci tangan dan kakinya di rumah korban. Berselang 15 menit kemudian, Andi tiba di rumahnya. Saat itulah Sakim buru-buru minta Andi agar mengantarnya pulang ke tempat kos.

Sesampainya di tempat kos, tersangka mengganti pakaian yang dikenakannya saat membunuh korban. Barang bukti itu lantas dimasukkan ke dalam tas plastik dan hendak dibawa kembali ke TKP sambil mengambil gantangan ayam. “Dalam perjalanan, tersangka membuang baju kaos dan celana yang berisi noda darah masing-masing di Tukad Badung, Jl. Gunung Kerinci arah Jl. Nusa Kambangan, Denpasar. Tersangka juga membuang sandalnya di selokan,” tegas AKBP Jiartana.

Baca juga :  Respons Cepat BPBD Buleleng, Tiga Bencana Tertangani

Sedangkan Andi yang dalam perjalanan menuju Jalan Selayar, tiba-tiba ditelepon adiknya. Sang adik mengabarkan bahwa ibunya meninggal dunia di kamar dengan posisi luka dan berdarah. Mendengar kabar tersebut, tersangka Sakim ikut ke TKP dan pura-pura panik serta memegang jenazah korban. Tersangka seolah-olah tidak tahu kasus pembunuhan tersebut.

Setelah mendapat laporan kasus itu, petugas Resmob Satreskrim Polresta Denpasar melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap tersangka Sakim di TKP.

Hasil otopsi rumah sakit, korban mengalami luka di atas alis kanan dan kiri, kepala atas, telinga kanan-kiri, serta luka di otak kecil, akibat pukulan benda tumpul. “Tersangka dijerat Pasal 338 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara,” tandas Wakapolresta. (124)