Ketika Desa Awan, Kintamani, Bangli, Kelola Sampah

0
87
KUMPULAN SAMPAH - Pengelola bank sampah menunjukkan kumpulan sampah plastik dan residu dari warga Dewa Awan, Kintamani, Bangli, yang siap dijual. DenPost/antarini

 

Sampah kini menjadi pemicu masalah terutama bencana dan kesehatan. Hal ini kemudian menjadi perhatian dunia, termasuk Indonesia. Terlihat sepele, namun sampah yang tak dikelola dengan baik justru menjadi jurang bencana. Hal ini rupanya menjadi perhatian serius bagi sejumlah tokoh di Desa Pakraman Awan, Kintamani, Bangli.

SEJAK akhir tahun 2016 Desa Awan ternyata sudah punya kelompok relawan peduli lingkungan yang beranggotakan warga setempat. Dari skala kecil peguyuban, kini sampah dikelola resmi desa dengan dibentuknya bank sampah. Secara perlahan, Awan memulai menjadi desa bersih seperti di Desa Wisata Penglipuran, Bangli.

Bersama rekan-rekannya, I Ketut Dana Brata sejak tahun 2016 punya ide dan rencana mulia menyelamatkan alam terutama dari hulu. Hal tersebut dimulai dari masing-masing rumah tangga. Mereka membentuk satu kelompok yang awalnya beranggotakan 15 orang. Secara manual, mereka menggugah kesadaran warga setempat untuk menjaga alam dengan tidak membuang sampah sembarangan. “Kami geli mendengar adanya Adiura Desa yang disampaikan pemerintah. Setelah itu kami melakukan upaya penyehatan dari hulu, dari rumah tangga,” kata Dana Brata yang Perbekel Awan ini.

Lama-kelamaan hal tersebut mendapat respons dari masyarakat, tokoh maupun Pemerintahan Desa (Pemdes) Awan sehingga PKK setempat melalui Kader PHBS dan Kader LBS ikut ambil bagian menangani sampah. Kader tersebut menginovasi penimbangan sampah yang dipilah-pilah di rumah tangga, kemudian dibayar melalui tabungan sampah bekerja sama dengan BUMDes Giri Sedana, Desa Awan.

Baca juga :  REDAM PHK, RAMAI-RAMAI BERIKAN DISKON

Melihat hal itu masyarakat Desa Awan rupanya semakin antusias untuk memilah sampah di rumah masing-masing, kemudian dibawa ke bale banjar untuk dijual. Setelah terkumpul, Komunitas Sahabat Alam Lestari mengangkut sampah tersebut untuk dikumpulkan dan dikemas di tempat pengolahan sampah terpadu berskala desa. Setelah terkumpul dan dikemas, Dywik Bank Sampah datang untuk membeli sampah tersebut sesuai jenisnya. Sedangkan sampah organik dicacah untuk dipergunakan sebagai pupuk. “Kesulitan awalnya menyadarkan masyarakat, karena harus dibentuk pola bahwa menjaga alam adalah kewajiban. Intinya alam sudah memberikan kehidupan. Jika tidak bisa menjaga atau merawat, paling tidak kita tidak merusak,” tegas Dana Brata, didampingi I Nyoman Dapet selaku Sekretaris Desa Awan, Selasa (11/2/2020).

Bahkan pada awalnya tak sedikit pihaknya mendapat cemohan dan sindirian. Dia dikatakan mencari muka atau sensasi. “Sekarang masih ada, tapi jumlahnya sudah berkurang. Mereka disebut sampah masyarakat,” tegas Dana Brata, sambil tertawa ringan.

Baca juga :  Mengenal Desa Bongan, Jejak Peninggalan Patih Kebo Iwa di Kabupaten Tabanan

Hingga tahun 2019, sistem pengelolaan sampah menjadi makin berkembang dengan bertambahnya pengelola. Menyusul dipatenkan oleh desa dan dikelola desa, yang kemudian menjadi bank sampah Sahabat Alam Lestari. Sejak saat itu pengelolaan sampah di desa dengan penduduk 369 KK ini makin berkembang dan berkualitas. Tak hanya lingkungan bersih dan sehat, warga pun mendapat tambahan penghasilan lewat tabungan. “Manfaat dari pengelolaan sampah ini, pertama: tentu upaya penyelamatan lingkungan yang implikasinya pada kesehatan yang dimulai dari skala kecil yakni rumah tangga. Juga melatih kesadaran masyarakat untuk turut menjaga lingkungan. Kalau dampak sosialnya, kontribusi terkait sampah tidak ada lagi, karena sudah kami amankan dengan baik dan pilah. Bahkan ada slogan, dari pis (uang) jadi emas, dari sampah menjadi berkah,” jelas pria yang sebelumnya berprofesi sebagai pengacara ini.

Komitmen Desa Awan yang mewilayahi Dusun Kauripan dan Merta ini menjaga lingkungan sejatinya sudah ada dari dulu. Sebelum terbentuk pengelolaan sampah, pihak adat membuat perarem adat. Dimana setiap warga yang ketahuan membuah sampah sembarangan, baik difasilitas umum maupun pribadi, maka didenda Rp50 ribu. Hal ini juga berlaku bagi tamu atau warga luar yang datang. “Syukur belum ada yang kena denda. Terlebih sekarang, warga mulai mengerti dan sadar akan pentingnya menjaga alam,” sebut Dana Brata.

Baca juga :  Mengenal Desa Bongan, Jejak Peninggalan Patih Kebo Iwa di Kabupaten Tabanan

Warga kian semangat dengan kebijakan pemberian penghargaan bagi yang mampu mengumpulkan sampah tepat waktu, melakukan pemilahan sampah dengan benar, termasuk zonasi lingkungan dengan jalan raya. Mengenai pengumpulan sampah oleh warga ke tempat pengelolaan sampah di Awan dilakukan setiap sepekan sekali yakni pada Minggu. “Sampah plastik dengan berbagai jenis akan dipilah. Ada plastik bening, berwarna, kresek dan lainnya, akan dipilah. Botol-botol bekas minuman kemasan juga dipilah karena punya harga yang berbeda,” bebernya.

Dicontohkan untuk kaleng bekas minuman kemasan dihargai Rp100 per kaleng. Untuk pengangkutannya dilakukan jika satu truk sudah penuh. Bisa dua bulan atau lebih atau tergantung aktivitas warga. “Kalau ada upacara piodalan atau pernikahan, maka pengakutannya bisa lebih cepat ke TPA. Kami bawa ke TPA Landih,” tandas Dana Brata. (antarini)