Wisman Tiongkok Sepi, Nelayan Bengiat “Terselamatkan” Turis Eropa

0
21

Nusa Dua, DenPost

Ditutupnya penerbangan dari dan ke Tiongkok rupanya sangat berdampak bagi masyarakat yang mengandalkan hidup dari sektor pariwisata. Hal itu terlihat di  Nusa Dua, kawasan yang biasanya ramai wisman dari negeri tirai bambu itu, kini sepi dari turis Tiongkok.

Kondisi ini dirasakan Kelompok Nelayan Yasa Segara, Bengiat, Nusa Dua, yang mencari nafkah dari wisatawan yang berkunjung ke sana.

Salah seorang nelayan yang tergabung dalam Kelompok Yasa Segara, Bengiat, Ketut Koder, Kamis (13/2/2020) mengakui bahwa kunjungan wisatawan Tiongkok ke kawasan tersebut turun drastis. Bahkan penurunan kunjungan ini terjadi sejak dua bulan terakhir, mulai dari 40 persen dan terus menurun. Kondisi ini sangat berbeda dengan sebelum merebaknya virus corona.

Baca juga :  Giri Prasta Harus Kerja Keras untuk Capai Ini

Biasanya mulai Desember hingga Maret, turis Tiongkok ramai. Namun sekarang hampir tidak ada sama sekali.

Bukan hanya dirasakan nelayan Yasa Segara, hotel di samping-sampingnya juga terpaksa menggulung peralatan yang biasa dipakai tamu berjemur di pantai, karena sepi. Peralatan seperti kursi panjang memang khusus disiapkan untuk wisatawan Tiongkok yang menjadi langganan hotel tersebut.

Tapi ada juga sebagian yang disiapkan untuk wisatawan lain atau non-Tiongkok.

Baca juga :  Suiasa Kunjungi Masyarakat Terkena Musibah di Desa Taman dan Bongkasa

Biasanya ada sekitar 100 lebih wisatawan Tiongkok yang berkunjung ke sana. Wisatawan ini dibawa oleh travel agent yang diajak kerja sama.

Beruntung, kata Koder, nelayan setempat ‘’terselamatkan’’ kunjungan wisatawan Eropa yang cukup ramai. Selain itu kawasan Pantai Bengiat sudah dikenal di kalangan wisatawan Eropa.

Kondisi yang sama terjadi di Tanjung Benoa yang terkenal dengan wisata baharinya. Ketua Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Badung, yang juga pengusaha Water Sport, Nyoman Wana Putra, memaparkan bahwa penurunan jumlah kunjungan wisatawan Tiongkok ke Tanjung Benoa sangat tinggi yakni sekitar 65 persen. Pada umumnya wisatawan Tiongkok sangat suka kegiatan watersport.

Baca juga :  Bersih-bersih Bale Banjar, Sutapa Tewas Disapu Expander

Bahkan ada perusahaan yang khusus menggarap wisatawan Tiongkok mengatur ulang jadwal kerja karyawan karena sepi. Dua usaha watersport tersebut k membelakukan sistem kerja bergilir.

Selain itu, dampak penurunan kunjungan ini membuat para pengusaha mulai melakukan efisiensi dan terpaksa mhitung-hitungan untuk bisa mengatur biaya upah pekerja.

Wana Putra berharap kondisi ini bisa disikapi pemerintah agar pariwisata secepatnya pulih kembali. “Kami menunggu langkah pemerintah,” pungkasnya. (sugiadnyana)