Tari Sakral Ini Dipentaskan saat 54 Tahun Transformasi Desa Benyah Jadi Desa Pancasari

0
43
SANGHYANG PENYALIN - Seorang warga Desa Pancasari saat menarikan Tari Sanghyang Penyalin.

Singaraja, DenPost

Sebelum menyandang nama Pancasari, salah satu desa di Kecamatan Sukasada ini awalnya bernama Desa Benyah. Menurut cerita, dinamakan benyah, karena dulunya di kawasan itu kerap terjadi bencana sehingga tanahnya benyah atau becek. Nah, pada tanggal 20 Februari 1966, nama Desa Benyah pun diganti menjadi Desa Pancasari.

Kepala Desa Pancasari, Wayan Darsana, di sela-sela peringatan HUT ke-54 Desa Pancasari mengatakan, tidak ada yang khusus ditampilkan, selain memperingati berubahnya nama Desa Benyah menjadi Desa Pancasari. “Intinya kami memperingati berubahnya nama dari Desa Benyah menjadi Desa Pancasari,” ucapnya didampingi Ketua BPD Pancasari, Gede Adi Mustika Kamis (20/2) sore.

Baca juga :  Keterbelakangan Mental, Mariati Bertahan Sebatang Kara

Meski digelar secara sederhana, dalam peringatan tersebut ternyata dipentaskan tarian sakral yakni Tari Sang Hyang Penyalin. Tari Sang Hyang Penyalin ini merupakan tarian khas Desa Bugbug, Karangasem yang dibawa ke Desa Pancasari sekitar tahun 1958. “Saat ini sudah ditarikan oleh tiga generasi,” ucap Adi Mustika yang juga Kelian Seka Hyang Puspa Mandala Giri.

Dijelaskannya, tarian sakral ini dipersembahkan untuk menghalau bencana di Desa Pancasari. Saat pementasan, sang penari membawa rotan (penyalin) sepanjang 2 meter yang kemudian diliak-liukkan mengikuti kakidungan atau nyanyian khas yang mengiringinya. Sembari terus bergerak mengikuti irama, sang penari juga memercikkan tirta kepada krama setempat menggunakan rotan tersebut. “Memang tidak semua orang bisa menarikannya, harus jodoh dan masuk menjadi seka terlebih dahulu,” katanya.

Baca juga :  Empat Warga Gianyar Terpapar Corona, Seorang di Antaranya Pegawai Polda

Dia berharap, dengan peringatan ini warga kian sejahtera dan wilayah Desa Pancasari terhindar dari bencana. Rencananya, tahun 2021 mendatang pihaknya bersama warga akan membayar kaul dari Kepala Desa Pancasari yang pertama, (alm) Wayan Widia yang kini sudah menjadi dewa hyang. Kaulnya berupa mendak Tirta Amerta Sari di Pucak Sari. “Itu merupakan kaul yang disampaikan perbekel pertama Desa Pancasari jika wilayah Desa Pancasari aman dari bencana,” imbuhnya.  (bin)

Baca juga :  Patuhi Prokes, Sidang Dewan Buleleng Lancar

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini