Bendesa Pun Ikut Lomba Pidato Bahasa Bali

0
53
JUARA - Cokorda Gede Brasika Putra (nomor dua dari kiri) menjuarai lomba pidato berbahasa Bali. (DenPost/ist)

Sumerta, DenPost

Wimbakara atau lomba pidato berbahasa Bali mengisi Kalangan Angsoka, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (21/2/2020). Lomba ini tidak biasa alias terbilang unik karena pesertanya adalah pemimpin desa adat atau disebut bendesa adat yang sangat dihormati masyarakat adat setempat. Masing-masing kabupaten/kota mengirim seorang bendesa sebagai wakil, dengan membawakan materi bertemakan Atma Kertih: Nyujur Jiwa Paripurna Melarapan Bulan Bahasa Bali.

Kepala Seksi Inventaris dan Pemeliharaan Dokumentasi Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Mahesa Yuma Putra, menjelaskan lomba ini merupakan terobosan dalam pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali di desa adat. Hal ini sesuai tercatat dalam Perda Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2019. “Lomba ini bertujuan mengembangkan bahasa, aksara ,dan sastra Bali di seluruh desa adat di Bali, sehingga ajeg,” tegasnya saat lomba.

Baca juga :  Pemda Sediakan Tempat Karantina Mandiri

Bendesa diharapakan memedomani bahasa Bali dalam kegiatan adat. Salah satu juri lombaI, Gusti Lanang Subamia, mengatakan ada lima hal yang dinilai yakni penampilan, pengolahan tema, penguasaan materi  bahasa Bali, dan amanat yang ingin disampaikan. Menurutnya Lanang, secara keseluruhan, penampilan masing-masing bendesa adat cukup baik.

“Pidato beda dengan dharma wacana. Karena itu yang dinilai dalam pidato ini adalah seseorang menjadi orator. Mereka punya gaya masing-masing dalam membawakan materi. Memang ada beberapa yang terkesan seperti sedang dharma wacana,” terangnya.

Baca juga :  Mafia Tanah Paksa Alihkan Tanah Bermasalah

Praktisi bahasa Bali asal Banjar Sandakan, Desa Sulangai, Petang, Badung, ini menerangkan bahwa pidato merupakan seni menuangkan ide untuk menggugah masyarakat, dan kerap mengutip isi kitab. “Kalau dharma wacana itu harus mengutip buku atau kitab yang sudah jelas, tidak boleh salah ngutip. Sedangkan pidato, menurut saya, boleh mengutip buku, biasanya secuplik saja. Tapi selanjutnya kemampuan menggugah pendengar. Pidato bisa juga diisi dengan gurauan-gurauan,” tandasnya.

Baca juga :  Periksa Saksi-saksi, Sidang Kasus Dugaan Perguruan Tanpa Izin Berlanjut

 

Dalam lomba ini lahir tiga pemenang: juara I disabet Cokorda Gede Brasika Putra mewakili Kabupaten Klungkung, juara II Ketut Sudiarsa mewakili Kabupaten Badung. Sedangkan juara III diraih AA Ketut Oka Adnyana mewakili Kota Denpasar.

Cokorda Gede Brasika Putra mengaku meski sudah terbiasa berbicara di hadapan krama adat, namun saat lomba masih saja gugup. “Saya tampil bukan ngejar juara, tapi juari-nya,” tutur dia.

Bendesa Adat Nyalian, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung, ini mengaku tidak memiliki persiapan khusus, sebab aktivitas di desa adat memang mengedepankan bahasa Bali sehingga membuatnya fasih. (wiradana)