DPRD Bali Siap Bahas Ranperda Energi Daerah

0
10

Renon, DenPost

DPRD Bali siap membahas Ranperda tentang Rancangan Umum Energi Daerah (RUED) Provinsi Bali yang diajukan Pemprov Bali. Itu ditegaskan Ketua Komisi III DPRD Bali, Kadek Diana, saat pertemuan dengan Dewan Energi Nasional (DEN), Jumat (21/2) siang.

Pertemuan dipimpin Wakil Ketua DPRD Bali, Cok Gede Asmara Putra Sukawati. Pertemuan dihadiri Sekjen DEN, Djoko Siswanto; Ketua Komisi III DPRD Bali, Kadek Diana; Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral Provinsi Bali serta sejumlah anggota DPRD Bali dari Komisi III.

Ranperda tersebut merupakan bagian upaya untuk menjadi Bali mandiri di bidang energi. Juga untuk melahirkan energi bersih di Bali, lepas dari energi yang berbasis fosil.

Baca juga :  Kritisi Ranperda Penyertaan Modal, Pansus X Tanyakan Ini

“Kami akan segera memroses Ranperda RUED. Kami sangat siap untuk membahasnya,” ujar Diana. Kata dia, pembahasan Ranperda RUED akan segera dilakukan, setelah pembahasan empat ranperda yang sudah berjalan. “Setelah rampung empat ranperda ini, kami akan bahas Ranperda RUED,” ujarnya.

Menurut Diana, selain energi dari fosil, ada potensi lain yang bisa dikembangkan di Bali. Mulai energi dari panas mahahari, angin, air, dan panas bumi. Kapasitas energi yang dihasilkan dari sumber-sumber tersebut rata-rata di atas 1000 MW lebih.

Baca juga :  Ini Jumlah Anjing Liar yang Divaksin di Denpasar

“Itu berdasarkan hasil kajian DEN. Kalau ini mampu dikembangkan. Tentu setelah melalui kajian yang matang bisa memenuhi kebutuhan energi listrik di Bali yang rata-rata butuh 100-200 MW per tahun,” jelas politisi PDI Perjuangan asal Gianyar ini.

Diana juga menyebutkan, selain itu, Bali juga menjadi pilot project pengolahan sampah menjadi energi listrik. “Itu akan segera dilakukan. Sekarang posisinya masa persiapan tender, khususnya untuk sampah di TPA Suwung. Nanti baru ke kabupaten/kota,” jelasnya.

Wakil Ketua DPRD Bali, Cok Gede Asmara Putra Sukawati, juga menjelaskan, DPRD Bali siap membahas Renperda RUED. Ia juga mengatakan, energi di Bali masih bersumber dari energi berbasis fosil. Untuk menuju energi bersih di Bali, perlu dikembangkan sumber-sumber energi seperti air, panas matahari (surya), energi angin, dan panas bumi.

Baca juga :  Kasus Sembuh dan Positif 26 Orang, 1 Pasien Dinyatakan Meninggal

Untuk geothermal, Cok Asmara masih terbentur masalah kesucian. Ia mengakui, energi yang dihasilkan panas bumi merupakan energi paling bersih dan ramah lingkungan. Panas bumi juga paling tinggi menghasilkan energi.

Namun, Bali menghindari untuk melakukan eksplorasi di tempat-tempat yang disucikan. Karena itu, diperlukan kajian yang melibatkan banyak pihak jika ingin mengembangkan energi panas bumi. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini