Pemuda Banjar Kelingkung Buat Ogoh-ogoh Jerami

0
65
JERAMI- Seka Teruna Eka Kencana, Banjar Kelingkung, Lodtunduh, Ubud, Gianyar, membuat ogoh-ogoh memanfaatkan jerami. (DenPost/yuliantara)

Gianyar, DenPost

Seka Teruna Eka Kencana, Banjar Kelingkung, Desa Lodtunduh, Kecamatan Ubud, Gianyar, memanfaatkan jerami dalam proses pembuatan ogoh-ogoh. Selain menghemat biaya, langkah itu dilakukan juga untuk mendukung program pemerintah terkait penggunaan bahan ramah lingkungan. Sampai saat ini ogoh-ogoh yang bertemakan “Sang Hyang Lelakut” tersebut sudah selesai hampir 70 persen.

Ketua ST Eka Kencana, I Made Suarjana, didampingi arsitek ogoh-ogoh, I Wayan Agus Eri Putra, menjelaskan  proses pembuatannya sudah sejak sebulan lalu. Pembuatannya terlebih dahulu dengan mencari jerami di areal persawahan warga di desa setempat. “Ini kami buat empat ogoh-ogoh, satu yang besar dengan ukuran 6 meter dan tiga lagi sekitar 2 meter. Selain itu, ornamen pendukungnya juga berbahan jerami,” jelas Suarjana, Senin (24/2/2020).

Baca juga :  Sehari, Dua Warung Terbakar di Gianyar

Diungkapkan, selain mencari bahannya yang sangat gampang, pengeluarannya sangat sedikit, sehingga bisa lebih menghemat biaya. “Bahan jerami ini karena ada kaitannya dengan tema, yaitu Lelakut. Selain itu, kami sengaja menggunakan bahan yang sebelumnya tidak terpikirkan bisa dijadikan sebuah ogoh-ogoh,” kata pria yang akrab disapa Tegang itu.

Tegang mengaku jumlah seka teruna di banjarnya 104 orang, sehingga gampang bisa mencari jerami di areal persawahan. Sampai saat ini proses pengerjaan ogoh-ogoh baru mencapai 70 persen dengan menghabiskan jerami sebanyak tiga pick-up. Sedangkan jika sampai 100 persen, ia mengaku paling tidak memerlukan jerami lagi satu mobil pick-up.

Baca juga :  Ratusan Petugas Satpol PP Gianyar Di-rapid Test

Agus Eri menambahkan selain jerami, bahan yang dipergunakan adalah beberapa besi dan kawat sebagai kerangkanya. “Bahannya semua kami gunakan jerami, termasuk hiasan-hiasannya. Sedangkan khusus ogoh-ogoh yang kecil ini kami gunakan buah kelapa sebagai kepalanya. Untuk jerami agar bisa melekat kami pergunakan sistem sulam. Mulai dari ogoh-ogoh, kober, tedung dan ornamen lainnya kami juga gunakan jerami,” katanya.

Ogoh-ogoh tersebut malam pengerupukan akan diikutsertakan dalam parade di desa adat setempat. Dengan mengambil lokasi di perempatan desa atau yang disebut dengan Catus Pata Desa Adat Lodtunduh. Pesertanya terdiri atas 5 banjar.

Baca juga :  Dua Orang Warga Gianyar Positif Covid-19

Disinggung soal kendala, Agus Eri mengaku, hanya pada awal-awal proses sulamnya saja. Di mana awalnya tangan anggota sekaa teruna gatal-gatal mungkin karena berjam-jam bermain jerami. Tetapi itu, berlangsung seminggu saja setelah itu sudah biasa sampai ogoh-ogoh ini hampir selesai. (yuliantara)