Oknum Kasek Itu Ternyata Juga Setubuhi Anak Didiknya yang Lain

0
9
DIPERIKSA-Mengenakan baju tahanan dan wajah ditutup zebo hitam, tersangka Wayan S (43) diperiksa penyidik Unit PPA Satreskrim Polres Badung, Senin (24/2/2020). (DenPost/ist)

Mengwi, DenPost

Penyidik Sat.Reskrim Polres Badung terus mendalami keterangan Wayan S (43), oknum Kepala Sekolah Dasar (SD) di Kuta Utara, Badung, yang menyetubuhi mantan siswinya sebut saja Mekar (16).

Hasil pendalaman polisi hingga Jumat (28/2/2020), selain Mekar, pria asal Karangasem itu ternyata mengaku pernah mencabuli mantan anak didiknya yang lain berinisial D.

Kasat Reskrim Polres Badung AKP Laorens Rajamangapul Haselo, mengatakan tersangka yang disebut-sebut guru berprestasi itu mengaku telah mencabuli korban D saat duduk di kelas 6 SD. “Korban D beda kelas dengan Mekar. Kalau D kini kuliah. Dia dicabuli jauh sebelum Mekar. Tersangka melancarkan aksi bejatnya saat para korban masih kelas 6 SD,” tegasnya.

Baca juga :  Terkonfirmasi Covid-19, Anggota Dewan Jembrana Meninggal

Modus pencabulan yang dilakukan tersangka Wayan S terhadap D, kata Laorens, sama persis dengan Mekar. Awalnya korban dirayu dan dibelikan barang-barang hingga kemudian disetubuhi. Namun, kata Laorens, persetubuhan terhadap D tidak sampai berlangsung lama. “Beda dengan Mekar yang dicabuli sejak kelas 6 SD hingga kelas 1 SMA. Pencabulan itu hanya beberapa kali dilakukan. Korban D kini diketahui keberadaanya,” ungkap Laorens.

Ditanya apakah D akan dipanggil untuk diperiksa sebagai saksi, AKP Laorens mengaku masih menunggu perkembangan pemeriksaan terhadap tersangka. “Korban D tidak diketahui keberadaannya sekarang, karena dia sudah kuliah,” bebernya.

Baca juga :  Musrenbang RKPD Kecamatan Tahun 2022, Fokus Kesehatan dan EKonomi

Meski tidak memanggil D sebagai saksi, namun pihaknya sudah punya bukti yang cukup untuk menjerat tersangka Wayan S dalam Pasal persetubuhan terhadap anak yang terkandung dalam Pasal 81 KUHP, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. “Bukti bukti sudah cukup dari mulai keterangan saksi-saksi, dan barang bukti untuk menjerat tersangka,” tandas Laorens. (wiadnyana)