Sekolah Pasraman Gurukula Krisis Makanan dan Guru

0
40
Kepala Sekolah Pasraman Gurukula I Wayan Arsada

Kondisi Sekolah Pasraman Gurukula di Kelurahan Kubu, Bangli, kini cukup memprihatinkan. Di sekolah yang menampung para siswa dari jenjang SMP dan SMA ini hanya mengandalkan donator untuk operasional. Itu pun sifatnya tidak tetap atau insidentil.

MENURUT Kepala Sekolah Pasraman Gurukula I Wayan Arsada, untuk kebutuhan makan pokok seperti beras, pihaknya mengalami kekurangan hingga 1,2 ton per bulan. Sedangkan kebutuhan beras setiap bulan sejatinya 1,5 ton untuk kebutuhan 130 anak didik. Sejak dua tahun terakhir ini, memang ada bantuan tetap dari donatur sebanyak 300 kg beras per bulan. “Jadi kami masih minus 1,2 ton untuk makanan anak-anak per bulan,”sebutnya, Jumat (6/3/2020).

Selama ini  kekurangan beras itu masih bisa ditanggulangi dari bantuan insidentil yang datang dari para donator lain. Untuk hitungan per hari kebutuhan beras di Pasraman Gurukula ini adalah 50 kg beras.

Baca juga :  Hijaukan Daerah Hulu dan Aliran Sungai, Ini yang Dilakukan Badung

Mengenai bantuan pemerintah, lanjut Arsada, selama ini juga sifatnya insidentil, berupa bantuan fisik atau bangunan bagi pasraman. Sedangkan untuk sekolah, memang sudah ada dana BOS. Mengingat jumlah siswa sedikit, maka jumlah dana BOS sedikit juga.

Untuk diketahui, selama ini Sekolah Pasraman Gurukula tidak hanya menampung anak-anak dari Bali, namun juga dari luar Bali yang beragama Hindu. Mereka adalah anak-anak yang tidak mampu, telantar, yatim-piatu, dari daerah sulit, dan termasuk anak-anak nakal yang dipindahkan dari sekolah lain. “Mereka sengaja dipindahkan ke sini agar bisa dibina sehingga tak nakal atau berulah lagi,” ungkap Arsada.

Baca juga :  Kapolres Bangli Pimpin Pendistribusian 200 Paket Sembako di Empat Kecamatan

Pasraman Gurukula juga sempat diundang Kementerian Hukum dan HAM sebagai mitra Bapas Karangasem karena menangani persoalan anak yang berhadapan dengan hukum.

Persoalan tak sampai di situ. Untuk kebutuhan belajar, pihak sekolah juga mengalami kendala. Dimana saat ini tenaga guru sangat minim, karena selama ini tenaga guru hampir tidak ada. Yang ada selama ini adalah guru pengabdi yang nafkahnya tidak mampu dibayar. Pihaknya juga terpaksa menggunakan tenaga guru dari kalangan mahasiswa. Lantaran minimnya tenaga guru yang dimiliki, seorang guru agama terpaksa harus mengajarkan mata pelajaran lain yang tidak sesuai dengan basiknya.  “Saya yakin dengan komitmen Bapak Gubernur Wayan Koster. Bagi saya, ada harapan sekolah ini bisa dibantu dan berkembang,” harapnya.

Baca juga :  Sidak Komisi III, Dewan Temukan Ini di Puspem Badung

Bantuan prioritas bantuan yang  paling diharapkan, selain rehab dan finishing gedung, juga makanan anak-anak, termasuk penambahan tenaga guru. “Walau bukan guru PNS, mungkin bisa guru kontrak di daerah Pemprov Bali yang memang memungkinkan, sehingga jumlah guru cukup sesuai mata pelajaran yang diajarkan,” pungkas Arsada. (antarini)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini