Kunjungan Turun Drastis, Pengelola Kafe Kedonganan Harapkan Ini

0
9

Kedonganan, DenPost

 

Suasana di Pantai Kedonganan, Minggu (8/3) sore terlihat sangat sepi. Kondisi yang tidak jauh berbeda juga terjadi di malam hari. Hal ini dikarenakan kunjungan ke kawasan wisata yang terkenal akan kafe ikan bakarnya ini turun hingga 80 persen. Hal itu diungkapkan Bendesa Adat Kedonganan, Wayan Mertha, diminta komentarnya terkait dampak virus Corona terhadap usaha yang dikelola oleh banjar-banjar yang ada di Kedonganan tersebut.

Mertha memaparkan, penutupan penerbangan akibat wabah virus Corona, sangat berdampak pada penghasilan usaha kafe di Kedonganan. Sebab pengunjung ke kafe ikan bakar ini sebagian besar adalah wisatawan mancanegara. Begitu juga wisatawan domestik mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan kemungkinan warga takut bepergian jauh-jauh setelah diumumkan ada warga yang terinfeksi virus ini.

Baca juga :  Tak Seperti Denpasar, Badung Hanya Liburkan Kelas 7 dan 8

“Dari koordinasi saya dengan para kelian, karena 24 kafe ini dikelola oleh banjar, katanya situasi sangat turun drastis,” paparnya.

Menurut Mertha, boleh dibilang situasi kali ini paling sepi di antara kejadian yang terjadi selama ini yang membuat kunjungan wisatawan turun. Apalagi ditambah kondisi cuaca juga kurang bersahabat di mana terjadi angin kencang dan banyak sampah kiriman. “Ini musibahnya bersamaan, makanya sangat sepi. Kalau hanya musim angin kencang, biasanya pengunjung bisa memanfaatkan tempat di dalam kafe, karena tidak bisa duduk di pesisir,” bebernya. Namun saat ini yang terjadi karena pengunjung yang tidak ada,” katanya. Biasanya, kata dia, di musim ramai minimal kunjungan 2.000 per hari. Namun saat ini hanya ada beberapa. Bahkan ada kafe yang kosong sama sekali tidak dapat pelanggan.

Baca juga :  Tak Lunasi PBB Hingga Akhir 2020, WP Dikenai Sanksi

Ditanya upaya yang dilakukan mengatasi situasi ini agar bisa bertahan, Mertha mengatakan hampir semua kafe saat ini menerapkan sistem pengaturan setengah kerja kepada karyawannya. “Namun kalau ini berlangsung lama, kami juga khawatir kondisi ini bisa lebih parah. Mudah-mudahan tidak lama,” harapnya.

Di sisi lain, karena pengusaha ini adalah warga setempat atau krama Badung, dia berharap ada kebijakan dari pemerintah daerah untuk membebaskan usaha ini dari pembayaran pajak sementara. Tujuannya agar mereka bisa bertahan di tengah situasi yang berat ini. “Artinya pajak 10 persen tetap dijalankan ke pengunjung, tapi tidak di setor ke pemerintah. Ini untuk sementara saja sampai situasi membaik,” usulnya. (113)

Baca juga :  Bandel Tak Pakai Masker, Sejumlah Pengendara Disuruh Balik

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini