Sidang Kasus BPR Suryajaya Ubud, Begini Keterangan Para Saksi

SIDANG - Sidang Kasus BPR Suryajaya Ubud dengan agend apemeriksaan saksi-saksi, Selasa (10/3) di Pengadilan Negeri Gianyar.

Gianyar, DenPost

Sidang kasus tindak pidana perbankan BPR Suryajaya Ubud dengan terdakwa WPLD (30) kembali berlanjut di Pengadilan Negeri (PN) Gianyar. Bila sebelumnya saksi yang dihadirkan memberikan keterangan berbelit-belit, dalam sidang pada Selasa (10/3), saksi yang dihadirkan menjawab pertanyaan baik dari Jaksa Penuntut Umum (JPU), hakim dan penasihat hukum terdakwa dengan jelas.  Saksi yang dihadirkan yakni I Made Suryana dan Luh Indriani, keduanya merupakan nasabah BPR Suryajaya Ubud. Kedua saksi ini dihadirkan oleh JPU.

Di dalam sidang yang dipimpin Ida Ayu Sri Adriyanthi, saksi Suryana menjelaskan bahwa dirinya merupakan nasabah prioritas dan dia dipanggil menjadi saksi karena terjadi penarikan pada rekening miliknya di BPR Suryajaya Ubud yang dia tidak ketahui dengan total Rp450 Juta. “Ada transaksi yang tidak sesuai yang saya lakukan,” terangnya.

Baca juga :  Ruang Isolasi RSUD Sanjiwani Gianyar Terisi 50 Persen 

Mendengar jawaban saksi, penasihat hukum terdakwa, Wayan Suardana, S.H.,  alias Gendo, lanjut menanyakan apakah saksi Suryana mengetahui siapa yang melakukan penarikan melalui rekeningnya serta siapa yang membuat slip penarikan atas nama Suryana. Atas pertanyaan Gendo, Suryana menjawab tidak tahu siapa yang melakukan penarikan uang menggunakan rekeningnya, serta tidak tahu siapa yang membuat slip penarikan atas namanya sendiri. “Saya tidak tahu”, jawabnya.

Sementara itu, saksi Indriani menjelaskan bahwa dirinya merupakan nasabah BPR Suryajaya Ubud. Lebih lanjut ia menerangkan, alasannya dipanggil dalam persidangan karena ada penarikan fiktif dalam jumlah besar yang tidak pernah dia lakukan. Di hadapan majelis hakim, Indriani juga mengaku tidak tahu siapa yang menarik uangnya. Dikatakannya, penarikan terhadap rekening miliknya yang didalilkan dalam dakwaan sejumlah Rp2 miliar lebih, justru baru diketahui pada pemeriksaan di kepolisian. Menurut Luh Indriani, saat diperiksa dia hanya disuruh menjawab ya dan tidak tanpa penjelasan yang memadai.

Baca juga :  Diduga Depresi Sakit, Bule Ditemukan Tewas Gantung Diri

Dalam kesempatan tersebut, Gendo menanyakan kepada Indriani apakah dirinya mengetahui ada kredit over limit pada rekeningnya. “Plafon saksi Rp1,6 miliar, berarti saksi tau ada kredit over limit pada rekening saksi?” tanya Gendo. Pertanyaan ini dilontarkan karena berdasarkan detail perincian total terhadap rekening koran Indriani melebihi plafon pinjaman.

Menanggapi pertanyaan Gendo, Indriani menerangkan bahwa awalnya dirinya sama sekali tidak mengetahui pada rekening yang dia miliki di BPR Suryajaya Ubud telah terjadi kredit over limit. Namun pada saat pemeriksaan di kepolisian, Indriani baru mengetahui bahwa pada rekeningnya terjadi kredit over limit. “Saya tahunya pas di kepolisian, pas saat itu saya disuruh jawab ya atau tidak,” katanya.

Baca juga :  16 Ekor Anakan Komodo Lahir di Bali Safari

Mendengar jawaban Indriani, hakim anggota, Ni Luh Putu Pratiwi, meminta ketegasan jawaban saksi terkait kredit over limit tersebut. “Itu (kredit over limit) kapan ibu baru tau? Pas pemeriksaan di Polisi?” tanya Pratiwi. Pertanyaan tersebut dengan tegas dijawab Indriani bahwa dirinya baru tahu saat pemeriksaan di Kepolisian.

Usai pemeriksaan saksi, sidang akan dilanjutkan pada Selasa (17/3) masih dengan agenda pemeriksaan saksi yakni saksi I Made Arsa selaku mantan Security BPR Suryajaya Ubud. (kmb)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini