Sembarangan Memetik Buah di Tenganan Pegringsingan, Sanksi Ini Menanti

I Wayan Sudarsana

Amlapura, DenPost

 

Bertahan dengan tradisi Bali Kuno, Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem memiliki sejumlah aturan adat yang cukup ketat. Salah satunya upaya perlindungan hutan desa. Dalam aturan adat, ada 4 jenis buah yang tidak boleh dipetik dari pohonnya. Yakni durian, kemiri, pangi dan teep. Buah-buah tersebut hanya dapat dipanen saat ia sudah jatuh dari pohonnya. Jika ada yang melanggar, adat akan menjatuhkan denda. Per buah yang dipetik harus diganti dengan 25 kg beras.

 

Hal tersebut diungkapkan Bendesa Adat Tenganan Pegringsingan, I Wayan Sudarsana, Rabu (11/3). Sanksi ini tak hanya berlaku untuk warga yang memetik buah-buahan melainkan untuk warga yang menebang kayu hutan. “Untuk kayu dendanya nilai dari harga kayu yang ditebang didua kali lipatkan,”  jelas Sudarsana.

Baca juga :  KECELAKAAN BERUNTUN, PEJABAT PEMKAB TABANAN TEWAS

 

Kedua sanksi tersebut berlaku tak hanya bagi masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan, melainkan juga untuk warga luar yang memiliki tanah di hutan desa tersebut. “Jika warga Desa Tenganan Pegringsingan, ada tambahan sanksi berupa penurunan jabatan satu tingkat,” imbuhnya, sambil menjelaskan bahwa ada 5 tingkatan strata jabatan untuk warga di Desa Tenganan Pegringsingan.

 

Lebih lanjut Sudarsana menyatakan, aturan adat ini sebenarnya memiliki tujuan kesejahteraan untuk warga desa. “Hutan tidak dieksploitasi. Tapi lebih diperuntukan bagi kesejahteraan warga Desa Tenganan Pegringsingan. Salah satunya buah durian, hanya bisa dinikmati saat sudah jatuh. Itu juga tak boleh dibawa keluar Desa Tenganan. Dengan demikian, hasil hutan benar-benar dimanfaatkan untuk warga desa, bukan jual-beli,”  paparnya.

Baca juga :  Ingin Tetap Sekolah, Remaja Asal Amertha Buana Nyambi Jadi Buruh Perkebunan

 

Tak cukup aturan pelestarian terhadap varietas buah-buahan di hutan desa, Desa Adat Tenganan Pegringsingan juga membuat sebuah pararem penggunaan buah hasil panen hutan desa, saat upakara agama. “Sesajen tidak boleh di luar ketentuan. Artinya setiap Sasih itu, ada buah khusus yang digunakan yang dipanen dari hutan desa,” katanya. Tak hanya buah, jajanan saat upacara pun diatur dalam pararem. “Tiap Sasih berbeda-beda jenis jajanan yang digunakan, ada peraremnya,” tambah Sudarsana

Baca juga :  Puluhan Massa Pasang Spanduk Penolakan Pabrik Limbah B3

 

Alhasil, berkat aturan yang telah diwarisi sejak turun-temurun itu, kelestarian hutan desa tetap terjaga.  Apalagi, sejak 15 November 2019 lalu, Pihak Desa Adat Tenganan Pegringsingan telah menerima Sertifikasi Masyarakat Hutan Adat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Sudarsana mengungkapkan,  hutan seluas 591 hektar ini nantinya akan dikembangkan menjadi objek wisata. “Kami rencananya akan kembangkan menjadi wisata tracking, ditambah anjungan-anjungan dan gazebo sebagai sport selfie. Tentu saja dengan tetap memperhatikan kelestarian sesuai aturan adat,” pungkasnya. (yun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini