Ketika Turis Sepi, Tetap kontrak Karyawan, Coba Bertahan dan Optimis

Ketika Turis Sepi, Tetap kontrak Karyawan, Coba Bertahan dan Optimis

SEBULAN lebih dihantam wabah virus corona, jumlah kunjungan ke Bali menurun drastis. Akibatnya, berbagai sektor usaha, khususnya pariwisata, menjadi kelimpungan akibat krisis yang tak dapat diprediksi ini. Sepinya kunjungan wisatawan membuat beberapa pengusaha hotel maupun restoran mesti mengambil berbagai langkah agar tidak bangkrut.

Menurut Ketua Kehormatan PHRI Karangasem, I Wayan Tama, minimnya pemasukan membuat sejumlah pengelola hotel dan restoran terpaksa memutus atau menyetop kontrak karyawan. “Pendapatan hanya cukup untuk biaya operasional dan menggaji sebagian pegawai,” tegasnya, belum lama ini.

Dia menambahkan tingkat hunian hotel di Karangasem saat ini rata-rata 20 persen. Bahkan beberapa hotel di bawah itu. Padahal saat musim low season (musim sepi) saat ini biasanya tingkat hunian mencapai 40 persen. “Kondisi inilah yang membuat sejumlah manajer mengambil kebijakan tidak memperpanjang kontrak karyawan,” terang pengusaha hotel asal Manggis ini.

Tama menyatakan bagi para pegawai yang tak diperpanjang kontraknya jangan berkecil hati, sebab hal ini hanya diprediksi sementara. Jika kondisi normal kembali, maka karyawan akan dipanggil dan diperpanjang kontraknya.

Sedangkan Ketua DPRD Karangasem I Gede Dana berharap agar para karyawan yang tak diperpanjang kontraknya mulai belajar bertani. “Kita tidak bisa terus-terusan bergantung pada pariwisata melihat kondisi seperti ini,” tegasnya.

Menurut Gede Dana, imbauan belajar bertani, tak hanya disampaikan untuk para karyawan yang tak diperpanjang kontraknya, namun juga karyawan pariwisata lain. “Dalam sehari atau hari libur, saya berharap setiap karyawan membekali diri atau mulai melirik potensi pertanian. Selain bisa menyelamatkan perekonomian di tengah terpuruknya pariwisata, usaha ini merupakan upaya menjaga ketahanan pangan untuk masyarakat Bali,” pungkas politisi asal Desa Datah ini.

Mirip sama dengan di Karangasem, dampak wabah virus corona juga membuat pariwisata di Kuta Selatan (Kutsel), Badung, keteteran. Selain itu, para pekerja menjadi kian terjepit, seperti yang dialami para pekerja di sektor wisata bahari di Tanjung Benoa. Tapi mereka mencoba bertahan sambil berharap kondisi segera membaik.

Baca juga :  Komisi III Setuju Rapid Test Gratis Disetop

Pekerja wisata bahari di Basuka Watersport, Tanjung Benoa, A.A. Putra Sugiana, mengaku sadar betul akan kondisi saat ini yang terparah dibanding kasus-kasus sebelumnya yang membuat kunjungan turis menurun. Bahkan dia dibilang wisatawan yang berwisata bahari saat ini hanya 25 persen. “Hal ini terus terang sangat kami rasakan. Apalagi saya kerja dari Gianyar ke Kutsel, kondisi ini membuat sangat susah,” ujar bapak dua anak ini, dengan mimik lesu.

Pada saat kunjungan wisatawan normal, paling tidak ada rezeki yang bisa dibawanya untuk anak dan istri. Misalnya dari tips tamu yang puas mendapat pelayanan baik setelah bermain wisata air di Tanjung Benoa. Namun sekarang sama sekali tidak ada. Hal inilah yang membuat Putra Sugiana dan pekerja lain harus menghadapi situasi yang sulit. Apalagi jika hidup di rantau, tentu harus membayar biaya kos dan beberapa keperluan lain seperti membayar angsuran kredit.

Putra Sugiana mengaku masih bersyukur di tengah kondisi terpuruk ini Basuka Watersport belum sampai merumahkan karyawan atau melakukan pengaturan jam kerja. “Karenanya saya wanti-wanti ke teman-teman agar tetap semangat dan optomis. Mudah-mudahan kondisi ini segera berlalu,” tandasnya.

Apakah ada rencana pulang kampung ke Gianyar seandainya kondisi ini belum juga membaik dalam bulan ini? Putra Sugiana menegaskan belum berpikir pulang kampung, namun masih optimis jika virus corona ini segera berlalu. “Saya belum ingin berhenti bekerja. Saya berupaya bertahan dan optomis kondisi ini segera berubah,” bebernya.

Dia juga mengaku kondisi saat ini yang terberat dibanding kasus-kasus lain yang berdampak bagi pariwisata.

Ditanya apa yang dilakukan untuk mengisi waktu luang selama tamu sepi, Putra Sugiana mengaku memupuk semangat lewat kegiatan bersama seperti bersih-bersih atau gotong-royong.

Baca juga :  Terbukti Berpolitik Praktis, Seorang ASN Badung Kena Sanksi

Manajer Basuka Watersport Wayan Citra membenarkan bahwa kondisi saat ini memang yang terparah dibanding saat penurunan tamu sebelumnya yang pernah terjadi di Bali. Bahkan, kata dia, jauh lebih buruk daripada dampak tragedi bom Bali. “Kalau waktu bom Bali, kami masih bisa bernapas, karena turis tidak takut ke Bali. Tapi dampak virus ini benar-benar membuat wisatawan ketakutan bepergian ,” tegasnya.

Hal ini tidak rlepas dari pemberitaan di media sosial (medsos) yang begitu gencar dan masiv. Karenanya, Wayan Citra berharaf agar pengguna medsos jangan berlebihan memposting dampak virus ini. Padahal Dinas Kesehatan sudah mensosialisikan tentang penularan dan cara antisipasi yang perlu dilakukan.

Meskipun penurunan yang terjadi sangat tajam, Wayan Citra bersama pemilik wisata bahari, tidak sampai merumahkan karywan atau mengurangi jam kerja mereka. “Memang jujur kami akui bahwa pendapatan kami sejak Januari boleh dibilang minus, karena dipotong dengan biaya operasional. Namun pemilik kami berupaya mengatasi dengan memanfaatkan dana talangan,” tegasnya.

Namun Wayan Citra tidak berani memastikan apakah hal ini masih bisa dilakukan jika kondisinya berlangsung lama. “Kami bukan sok-sokan, tapi berupaya mengatasi agar tidak terlalu terdampak pada perusahaan. Mudah-mudahan kondisi ini tidak lama,” bebernya.

Tidak Terpaku pada Satu Pasar Wisatawan … Upaya ini juga bisa bertahan karena pihaknya tidak terpaku pada satu pasar wisatawan. Contohnya tidak hanya mengandalkan wisataan Tiongkok, tapi juga memadukan dengan wisatawan Eropa, India, termasuk wisatawan domestik. Pasar domestik juga punya peluang atau kualitas jauh lebih dibandingkan wisman.  “Kalau situasi kunjungan dalam posisi sedang biasanya saya mengkombinasikan pasar Eropa dengan domestik. Bahkan lebih menonjol domestik agar bisa berjalan,” imbuh Citra.

Dalam situasi seperti saat ini, pihaknya hanya bisa memperjuangkan agar nasib para karyawan bertahan. Sedangkan yang memutuskan tentu adalah pemilik. “Apalagi saat ini banyak kompetitor kami ada yang merumahkan atau mengarur jam kerja karyawan. Semoga kondisi ini segera membaik sehingga pariwisata kembali menggeliat,” tandasnya.

Baca juga :  Diduga Masalah Utang, Harimbawa Tewas  Gantung Diri

Walau tingkat kunjungan wisatawan menurun, belum ada laporan mengenai karyawan restoran maupun hotel yang dirumahkan di Kintamani, Bangli. Jro Wijaya, pemilik restoran di Batur, Kintamani, mengaku bahwa penurunan kunjungan turis, termasuk ke restorannya, tak terlalu siginifikan akibat virus corona. “Ada sih penurunanya, tapi tak terlalu. Sepertinya yang lain juga begitu. Setahu saya, restoran yang khusus untuk wisatwan Tiongkok sangat sedikit di Kintamani. Hanya ada satu, dua saja,” ucap mantan pengurus PHRI Bangli ini.

Dengan kondisi ini pula, dia maupun karyawan tak khawatir jika tidak ada pendapatan, sehingga harus mencari pekerjaan sampingan untuk menopang hidup. Pasalnya, wisatawan yang datang ke Kintamani saat ini masih ada, khususnya wisatawan domestik  dan Eropa. “Sekarang kan low season, sehingga wajar kalau kunjnungan wisatawan turun,” tegas Jro Wijaya.

Hal serupa dikatakan Made Arsana, humas salah satu tempat rekreasi sekaligus vila yang cukup terkenal di Toya Bungkah. Pihaknya belum punya kebijakan untuk merumahkan para karyawan alias mereka masih bekerja secara normal. “Pimpinan dan manajemen saat ini berjuang keras agar tak sampai merumahkan karyawan,” tambahnya.

Malahan pada masa situasi sulit seperti sekarang, pihaknya mengalihkan waktu dengan melakukan perbaikan ke dalam seperti kegiatan bersih-bersih lingkungan luar dan dalam ruangan kerja. Juga peningkatan SDM untuk pelayanan dan pelatihan bahasa. “Ada kursus bahasa mandarin untuk karyawan,” sebutnya.

Termasuk kegiatan CSR tetap dilakukan seperti renang untuk anak-anak, jalan rutin. Diimbangi dengan promosi yang tingkatkan dengan menyasar wisatawan domestik. “Akibat virus ini kami lebih gencar promosi ke wisatawan nusantara,” ungkap Arsana.

Dia menyebutkan bahwa penurunan kunjungan wisatawan asing di tempatnya mencapai 70 persen, dan domestik 20 persen. (yunda/sugiadnyana/antarini)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini