Tetap Melasti, Koster Bertekad Nyepi Tak Hilang Esensi

SURAT EDARAN - Koster dan pemimpin lembaga adat dan agama saat mengumumkan surat edaran terkait pelaksanaan rangkaian Nyepi.

Dauh Puri, DenPost

 

Pemerintah Provinsi Bali, Parisadha Hindu Dharma Indonesia Provinsi Bali dan Majelis Desa Adat Provinsi, menyatakan satu suara terkait pelaksanaan rangkaian Nyepi Saka 1942 pada 25 Maret 2020 mendatang. Ini ditandai dengan surat edaran bersama yang diumumkan Selasa (17/3) di Gedung Gajah, Jaya Sabha, Denpasar. Kendati terdapat sejumlah evaluasi terhadap pelaksanaan rangkaian Nyepi, ia bertekad hal tersebut tak menghilangkan esensi makna hari suci Nyepi.

Kata dia, terdapat beberapa pelaksanaan yang bisa disesuaikan dalam keadaan tertentu, agar tidak melibatkan banyak orang. Dia mencontohkan, apabila umumnya terlibat 100 orang, maka dalam kondisi ancaman Covid-19, hanya diikuti oleh orang yang diperlukan terlibat. “Dengan demikian rangkaian dari acara Hari Raya Nyepi ini bisa tetap berjalan tanpa kehilangan esensinya, sehingga saya kira kita harus menyesuaikan dengan kondisinya,” terangnya kepada media.

Hari Suci Nyepi menurutnya merupakan upacara yang memiliki rangkaian, meliputi Melasti, Tawur Agung dan lainnya. Ini menjadi alasan mendasar tidak mungkin meniadakan Melasti ataupun rangkaian pelaksanaan lainnya. Selain latar belakang itu, menurutnya rangkaian tersebut tidak bisa dilakukan di lingkungan rumah tinggal. “Dalam tatanannya memang sudah ditentukan pelaksanaannya. Kalau Melasti, ada ke laut dan sumber mata air lainnya. Jadi mesti berjalan,” imbuhnya.

Baca juga :  Didatangi Ayah Angkat Lewat Mimpi, Setelah Dijenguk Ternyata Tinggal Kerangka

Ia menegaskan, upacara rangkaian Nyepi tetap dilakukan sesuai dengan tempat pamelastian masing-masing desa adat. Hanya saja, dibatasi masyarakat yang terlibat. Terlepas dari upaya mitigasi, Koster berharap Hari Suci Nyepi kali ini dapat berlangsung lancar dan menjadi penanda berakhirnya wabah Covid-19.

Terkait pembatasan masyarakat dalam rangkaian Nyepi, Ketua PHDI Bali, Prof. Dr. IGN Sudiana mengatakan sedang melakukan koordinasi dengan Bendesa Adat.

Baca juga :  Inti Bali Gelar Festival Imlek Bersama di Jalan Gajah Mada Denpasar

“Kalau Melasti itu orangnya dibatasi, dan tempatnya pun diatur,” ujarnya. Ia menjelaskan, nanti desa adat akan mengkoordinasikan apakah semua pratima Ida Bhatara ikut Melasti, apakah ada sebagian pratima akan tetap di Pura. “Atau diatur semua ke pantai, (namun) yang ngiring itu penyungsungnya saja satu atau dua, yang lainnya tidak usah mengikuti. Baleganjur (penabuh) pun dibatasi,” ujarnya. Ia mengingatkan agar ini menjadi perhatian, demi keselamatan bersama. (wir)

Baca juga :  GEMPA JAWA DIRASAKAN HINGGA KE BALI

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini