Dipertanyakan, PMI Luar Bali Dikarantina di Denpasar

KARANTINA - PMI Denpasar saat dibawa ke salah satu hotel di Denpasar, untuk menjalani masa karantina 14 hari.

Dauh Puri, DenPost

Sebuah kapal pesiar MV Voyager Of The Sea yang membawa 232 Pekerja Migran Indonesia (117 asal Bali), dan (115 luar Bali) bersandar di Pelabuhan Benoa, Kamis (16/4). Namun, PMI asal luar Bali tersebut juga turun di Pelabuhan Benoa dan dikarantina di Denpasar. Terkait hal ini, Pemkot Denpasar mempertanyakan hal itu.

“Kami mempertanyakan dan menyayangkan hal ini terkait dampaknya di Denpasar. Nanti siapa yang mengawasi?” Tanya Jubir Gugus Tugas Covid-19 Kota Denpasar, I Dewa Gede Rai. Ditambahkan Dewa Rai, yang merekomendasikan harus memberikan solusi dan harus diawasi.

Dari hasil rapat provinsi dengan kabupaten/kota di Bali, PMI asal Bali menjadi tanggung jawab masing-masing kabupaten/kota. Dalam rapat tersebut, juga tak ada dibahas terkait PMI luar Bali yang turun di Benoa. “Kami sangat menyayangkan karena sesuai hasil rapat sudah jelas, keputusan PMI asal Bali masing-masing jadi tanggung jawab kabupaten/kota untuk karantina termasuk pembiayaan, sehingga jelas siapa yang mengawasi, siapa yang jemput dan siapa mengantar,” ujarnya.

Sementara Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Denpasar juga menyayangkan Provinsi Bali mengizinkan penurunan penumpang PMI Kapal Pesiar MV Voyager of The Sea di Pelabuhan Benoa. Sebab, dari standar operasional prosedur (SOP) Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sesui SE Kemenhub Nomor 13 Tahun 2020 tentang pembatasan penumpang di kapal, angkutan logistik, pelayanan, pelabuhan selama masa darurat penanggulangan bencana corona Covid-19 mewajibkan bersandarnya kapal pesiar pembawa PMI dipusatkan dalam satu wilayah di Kepulauan Riau. “Provinsi tidak konsisten dalam melaksanakan SOP yang ada. Dari kesepakatan bahwa tidak ada kapal pesiar yang berlabuh di Pelabuhan Benoa apalagi untuk bersandar,” ucap Sriawan.

Baca juga :  Sempat Dilaporkan Hilang, Tim SAR Akhirnya Temukan KM Baruna Jaya Raya

Ditegaskan Sriawan, hal itu juga sudah ditegaskan Walikota Denpasar bersama Kepala Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Benoa Denpasar yang juga sudah tegas menolak kapal pesiar tidak datang ke Pelabuhan Benoa maupun bersandar. Namun, pada kenyataannya Kapal Pesiar malah menurunkan PMI di Pelabuhan Benoa, yang seharusnya jadi satu pintu di kawasan Pelabuhan Riau sesuai dengan SOP yang dikeluarkan Pusat. “Ini sudah jelas SOP dari Pusat. Dan kapal pesiar mendarat jadi satu lokasi di Kepulauan Riau baru mereka dijemput oleh masing-masing pemerintah daerah. Tapi ini malah diizinkan, ini tidak konsisten provinsi,” ucap Sriawan.

Baca juga :  Kasatpol PP Denpasar Tegaskan Tak Ada Tempat Usaha Kebal Tindakan

Dikatakan Sriawan, selama ini belum jelas ada SOP lain di daerah Bali yang menyatakan kapal pesiar bisa bersandar di Pelabuhan Benoa. Apalagi yang diturunkan juga bukan hanya PMI asal Bali, melainkan luar Bali yang rencananya akan ditempatkan di Hotel Grand Bali Beach dan Hotel Patra Jasa. Hal ini akan menambah kasus Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Kota Denpasar. Sedangkan Pemerintah Denpasar ingin meminimalisir adanya penambahan ODP di Denpasar. (112)

Baca juga :  Kapolda Ajak Ribuan Pelari Lawan Virus Corona

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini