Demam Berdarah Renggut Nyawa Pelajar SD di Desa Sudaji

TUNJUKKAN FOTO - Orangtua menunjukkan foto Komang Sri Wahyuni yang meninggal akibat demam berdarah.

Singaraja, DenPost

Seorang pelajar Komang Sri Wahyuni (12) asal Banjar Dukuh, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng, meninggal dunia akibat Demam Berdarah Dengue (DBD). Siswa kelas VI SD Negeri 2 Sudaji itu meninggal setelah menjalani perawatan intensif selama dua hari di ruang ICU RSUD Buleleng.

Sri merupakan putri ketiga dari empat bersaudara pasangan suami istri Gede Edi Arta (45) dan istri Ketut Sariasih (42). Sri meninggal dunia pada Minggu (26/4) sekitar pukul 18.20 malam. Tidak banyak pelayat yang datang ke rumah duka seiring imbauan pemerintah menekan penyebaran virus Corona (Covid-19).

Baca juga :  Panti Asuhan Narayan Seva Manfaatkan Lahan untuk Ini

Edi Arta menuturkan, Sri awalnya mengalami demam pada Minggu (19/4). Kemudian diperiksakan ke bidan desa setempat. Keesokan hari, Sri mendadak demam tinggi, lalu dibawa berobat ke salah satu dokter di Kota Singaraja.

Edi Arta awalnya tak terlalu menganggap serius demam itu. Edi tak tahu jika demam dialami Sri adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dalam hitungan hari merenggut kehidupan putri ketiganya tersebut.

Sepulang dari dokter, kondisi kesehatan Sri turun drastis. “Kondisi kesehatannya terus menurun. Susah menelan makanan, masuk mulut dikeluarkan lagi. Obatnya juga gitu,” ungkap Edi di rumah duka, Senin (27/4).

Baca juga :  Di Buleleng, Seluruh PMI yang Datang Sebulan Terakhir akan Jalani Rapid Test

Demam tinggi dialami Sri tak kunjung turun membuat keluarga panik, hingga diputuskan melarikan Sri ke RS Parama Sidhi Singaraja, pada Kamis (23/4) pagi.

“Sampai di sana langsung cek darah, cek lab dan rotgen, dan hasilnya gejala demam berdarah. Trombositnya rendah, katanya 74,” terangnya.

Kekhawatiran keluarga kian menjadi, saat tim medis RS Parama Sidhi memberitahukan bahwa trombosit Sri kembali turun dan harus segera dirujuk ke RSUD Buleleng.

Baca juga :  Donor Darah Pascavaksin? Ini Syaratnya

“Cuma satu hari dirawat di RS Parama Sidhi, trombosit Sri awalnya 74 turun sampai 16. Anak saya (Sri) kondisinya sudah lemas saat dirujuk ke ICU RSUD Buleleng pada Jumat (24/4) sore,” imbuhnya.

Kondisi Sri pun kian memburuk selama dua hari menjalani perawatan di RSUD Buleleng. Hingga akhirnya Sri meninggal pada Minggu petang. Jenazah Sri akan dikuburkan di setra (kuburan) Desa Sudaji, pada Selasa (28/4). (118)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini