Sutisari, Pemulung Tangguh yang Rawat Suami ODGJ dan Hidupi Dua Anak

Ni Komang Sutisari

Amlapura, DenPost

Hari-hari yang begitu berat harus dilewati perempuan asal Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem, Ni Komang Sutisari (36). Wanita berperawakan mungil ini harus berjuang merawat suami dengan kondisi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) sembari membesarkan dua orang anak. Derita Sutisari harus bertambah, di tengah pandemi Covid-19, penghasilannya sebagai pemulung turun drastis.

Di temui DenPost, di Jalan Raya, Nenas Kecicang beberapa waktu lalu, sambil menghapus peluh, Sutisari menjingjing setumpuk kardus, sambil membawa karung yang hanya berisikan beberapa botol plastik. Wajahnya tampak tak lagi semangat, mengingat anjloknya harga botol plastik bekas pakai, sejak wabah virus corona. “Dulu harganya masih Rp 1.000 sampai Rp 1.200. Sekarang hanya Rp 500 per kilonya. Sehari kalau kerja dari pagi sampai sore saya paling banyak dapat uang hanya 15 ribu,” tuturnya.

Baca juga :  Staf Positif, Puskesmas Bebandem Batasi Jam Pelayanan

Kendati hasil yang Sutisari dapatkan tak sebanding dengan lelah, ia tak surut semangat. Apalagi Sutisari memang tak punya pilihan lain. “Iya, karena saya harus bekerja sambil mengurus suami, pagi sebelum berangkat memulung saya harus suapi suami makan dan minum obat. Siang sebelum jam 1 saya harus cepat-cepat kembali pulang untuk siapkan makan dan memberikan suami saya obat,” cerita istri dari I Komang Budiasa ini.

Hal tersebut yang membuat Sutisari tak dapat mencari pekerjaan yang penghasilannya lebih menjanjikan. Sebab, saat bekerja dan terikat dengan orang lain, ia tak lantas bisa bebas pulang pergi merawat suaminya. “Suami saya kalau tidak minum obat dia bisa kambuh. Mengamuk, bahkan bisa mengambil pisau dan mengancam siapa saja saat dia kambuh. Dia begitu sejak tahun 2010 setelah anak kedua saya lahir,” ungkapnya.

Baca juga :  Patung Nyi Roro Kidul Akhirnya Dibongkar, Jero Dalem Samudra Sebelumnya Mengaku Dapat Pawisik

Sutisari memiliki 2 orang anak. Anak pertamanya laki-laki terpaksa putus sekolah di bangku kelas 6 SD. Sedangkan anak keduanya, perempuan kini tengah duduk di kelas 2 SDN 3 Bungaya. Sutisari belum sepenuhnya mengerti kenapa anak pertamanya memutuskan untuk berhenti bersekolah. “Dia berhenti sekolah dan memutuskan bekerja di salah satu arena judi sabung ayam. Di sana dia biasa bersih-bersih seperti menyapu. Namun sejak ada wabah, tajen tutup. Dia jadi tidak bekerja,” paparnya.

Di tengah himpitan ekonomi, tak lantas membuat rasa keibuan Sutisari hilang. Berkali-kali putra sulungnya ingin ikut memulung membantu Sutisari, namun ia tak pernah mengizinkannya. “Karena tidak bekerja, dia sering minta ingin ikut memulung. Tapi saya tidak izinkan. Siang sangat panas, saya saja sampai kadang-kadang pusing. Saya tidak mau dia kepanasan dan sakit,” tutur Sutisari.

Baca juga :  Terpeleset, Dua Pendaki Nyangkut di Jurang Gunung Batur

Di tengah kondisi yang begitu berat, ia masih bisa bersyukur dapat menerima beberapa bantuan dari pemerintah. Di antaranya, ia menjadi salah satu warga yang menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulannya. “Selain itu, pengobatan suami saya juga ditanggung Kartu Indonesia Sehat (KIS),” pungkasnya. Sutisari amat berharap, wabah virus corona dapat berlalu, sehingga harga botol bekas dapat kembali normal. (yun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini