Kasus Positif Covid-19 di Denpasar Meningkat Selama PKM, Pakar Nilai Ini

Konsultan Ilmu Penyakit Tropis dan Infeksi, Prof. DR.Dr. Ketut Tuti Parwati Merati, Sp.PD, KPTI, FINASIM

Dangin Puri, DenPost

Pemerintah Kota Denpasar terbukti agresif menerapkan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) dalam percepatan penanganan Covid-19. Kebijakan ini berlaku sejak, 15 Mei lalu, hingga hari ini. Terhadap kebijakan itu, sebagian masyarakat menilai PKM gagal dalam menekan laju peningkatan kasus positif Covid-19.

Faktanya, jumlah kasus positif di Denpasar hampir tak pernah absen. Konsultan Ilmu Penyakit Tropis dan Infeksi, Prof. DR.Dr. Ketut Tuti Parwati Merati, Sp.PD, KPTI, FINASIM, memandang berbeda. Diwawancarai, Kamis (28/5/2020), ia mengatakan faktor dari fenomena bukan selalu pertanda buruk.

Salah satunya, ia menilai selama menerapkan PKM, pemerintah terbukti ketat dalam melakukan rapid test. “Bisa karena jumlah tes yang semakin banyak dilakukan. Baik karena kapasitas laboratorium meningkat, maupun jumlah orang yang dites meningkat,” ujar dosen Fakultas Kedokeran Universitas Udayana ini.

Bahkan, ia mendukung apabila pemerintah melanjutkan tes yang lebih banyak dalam rangka menemukan kasus-kasus positif yang masih dalam stadium tanpa gejala atau gejala ringan. Ini membantu menemukan sumber penularan, sehingga bisa diisolasi. “Bila positif ditemukan meningkat, ini tidak selalu berarti tidak baik atau mengkhawatirkan,” sebutnya. Menjelaskan hal itu, dia memiliki dua pandangan. Pertama, orang yang hasil tes rapid terbukti reaktif atau sering disebut positif, tidak selalu hasil tes swab juga positif.

Baca juga :  Gubernur Koster Serahkan Bantuan Menkop ke Pelaku Usaha Mikro

“Atau disebut tidak konfirmasi positif Covid-19, tapi kita dapat mengawasinya dengan mengulang tes seminggu kemudian,” ulasnya. Pandangan kedua, bagi mereka yang hasil tes swab positif, berarti kasus konfirmasi positif Covid-19 akan naik, dan itu tandanya masih terjadi penularan di masyarakat.

Tapi dengan ditemukannya orang-orang positif Covid-19 melalui swab pada stadium awal tanpa gejala, ia memandang hal itu lebih baik daripada seakan kasusnya tidak ada karena tidak aktif melakukan tes. “Tapi lalu banyak pasien yang datang langsung ke rumah sakit dalam keadaan sudah dengan gejala berat atau sakit berat, yang berarti kasus ini sudah menularkan virus lebih lama, sehingga lebih banyak yang tertular melalui transmisi lokal. Hal terakhir ini yang justru lebih berbahaya,” terangnya.

Baca juga :  Masih Banyak Warga Tak Pakai Masker, Pemkot Lakukan Ini

Ia berkaca kepada kasus yang terjadi di Jakarta. Lantaran pasien yang ditemukan sudah memasuki gejala berat, maka segera butuh penanganan medis untuk mendapatkan alat bantu pernapasan. Kondisi ini membuat tingkat keselamatan pasien berkurang dan angka kematian meningkat.

Ia memandang, langkah Pemerintah Kota Denpasar yang menerapkan PKM sudah tepat, namun tetap harus dilakukan evaluasi. Salah satunya, masyarakat yang tergolong Orang Tanpa Gejala (OTG). Sebab seiring waktu OTG akan jatuh sakit, maka butuh penanganam medis sejak dini. (106)

Baca juga :  Tim Kecamatan Denut Tertibkan Gepeng dan Pedagang Asongan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini