Paguyuban Pinandita Dharma Bhakti Lestarikan Kearifan Lokal Bali

Ketua Paguyuban Pinandita Yayasan Dharma Bhakti Pura Puseh Denpasar Jero Mangku Kadek Iwan Wirawecana (kanan) bersama Jero Mangku I Nyoman Manik Sukaryasa. (DenPost/ist)

Dauh Puri, DenPost
Mengawal pelestarian kearifan lokal dan adat Bali menjadi visi utama Paguyuban Pinandita Yayasan Dharma Bhakti Pura Puseh Denpasar. Paguyuban ini resmi dibentuk Minggu (31/5/2020), yang diketuai Jero Mangku Kadek Iwan Wirawecana.

Dia menjelaskan paguyuban pinandita ini dibentuk untuk mewadahi masyarakat yang ingin mengenal dan mempelajari kearifan lokal, adat Bali, dan agama Hindu. Saat ini anggota paguyuban mencapai 100. Mereka adalah pemangku yang lulus menjalani pelatihan bersama Yayasan Dharma Bhakti.
“Tapi kami membuka diri untuk semua pemangku di Bali yang ingin ikut bergabung. Dasarnya ngayah atau pengabdian,” ungkap Jero Mangku Kadek Iwan Wirawecana didampingi Wakil Ketua Jero Mangku I Nyoman Manik Sukaryasa, Rabu (3/6/2020).

Baca juga :  Petugas KPU Enam Kabupaten/Kota Jalani Tes Cepat

Jero Iwan menambahkan sebelum terbentuk, paguyuban ini terlibat dalam berbagai kegiatan keagamaan yang digelar pangempon Pura Puseh Denpasar. Kegiatan meliputi pelatihan kepemangkuan, pelatihan serati dan metatah massal. Kegiatan serupa diupayakan berlangsung secara rutin.

“Tahap berikutnya kami buka agenda serupa. Juga akan mengembangkan pelatihan yoga, dan kursus menari Bali,” terangnya. Lebih dalam Jero Manik melanjutkan Yayasan Dharma Bhakti yang menaungi paguyuban pinandita ini berupaya adaptif.

Kegiatan yang digelar disesuaikan dengan kebutuhan dan persoalan sosial yang dihadapi umat Hindu. “Kami sangat terbuka, apa pun kemampuan masyarakat yang ingin bergabung di sini. Misalnya ingin mendalami seni-budaya, atau belajar menari, pencak silat, yoga dan mesanti,” jelasnya.

Baca juga :  Lagi, Tiga Pasien Covid-19 Meninggal Dunia di Bali

Contoh kearifan lokal lain yakni paguyuban ini juga mengagendakan pelatihan memasak makanan khas Bali seperti lomba ngelawar. Bagi Jero Manik, paguyuban ini dibentuk untuk menjadi media pembelajaran bagi masyarakat yang ingin mengenal esensi dari adat dan kearifan lokal Bali.

Melalui visi ini, Jero Iwan dan Jero Manik berharap agar paguyuban dapat menjadi solusi dari kewajiban masyarakat dalam menjalani kehidupan berbudaya dan beragama. Jero Manik menambahkan, program yang dikonsep paguyuban tetap berpijak pada literatur tradisional Bali sepeti sastra dan lontar. (wir)

Baca juga :  Delapan Anggota DPRD Denpasar Belum Dites Urine

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini