Punya Aset Rp240 Miliar, LPD Anturan Tak Mampu Cairkan Uang Nasabah

0
15
PERTEMUAN - Suasana pertemuan pihak LPD Anturan, Buleleng, dengan para nasabah di wantilan desa setempat. (DenPost/ist)

Singaraja, DenPost
Sejak diguncang pandemi virus corona, para nasabah LPD Anturan, Buleleng, panik dengan menarik uang berskala kecil maupun skala besar. Namun sayang, LPD yang mengelola aset sebesar Rp240 miliar itu tak mampu mencairkan uang para nasabah.

Bukan hanya krama (warga) adat Desa Pakraman Anturan yang menyimpan uang di LPD tersebut, tapi juga krama dari luar desa. Termasuk sejumlah warga negara asing (WNA).

LPD Anturan diduga bermasalah diduga akibat kredit macet atau aset tanah kavling yang dimiliki terlalu banyak. Akibat kredit macet itu, manajemen LPD Anturan tak punya dana yang cukup untuk membayar uang simpanan para nasabah.

Sebelumnya juga ada penarikan deposito berskala besar dari WNA, karena tahu kondisi perekonomian dunia lebih awal.
Mengatasi permasalahan itu LPD dan Kelian Desa Adat Anturan menggelar rapat dengar pendapat dua tahap yakni pada Sabtu (20/6/2020) untuk nasabah dari luar Desa Adat Anturan dan WNA. Sedangkan pada Minggu (21/6/2020) malam bagi krama Anturan.

Dalam dua kali pertemuan itu hadir Ketua LPD Anturan Nyoman Arta Wirawan, Kelian Desa Adat Anturan Drs. Ketut Mangku, Perbekel Anturan Ketut Soka, S.Pd,, dan Prof.Dr.Sujadi Budi (staf ahli Gubernur Bali).
Pada dasarnya, para nasabah menuntut manajemen agar segera mengembalikan uang mereka. Sebagai jaminan, harus dibuatkan surat pernyataan tertulis dari Ketua LPD Anturan Arta Wirawan.
“Bagaimana tanggung jawab Pak Ketua, kami tidak ingin disampaikan secara lisan. Buatkan pernyataan hitam di atas putih jika suatu saat tidak mampu memenuhi hak kami atau nasabah. Bapak sebagai ketua lembaga bersedia melunasi semua uang nasabah dari aset milik pribadi,” ujar Ketut Era Wati, yang didukung para nasabah lain.

Baca juga :  Di Sudaji, Kerauhan Berbuntut Bersitegang Dengan Polisi

Bukan hanya itu. Nasabah yang hadir juga membongkar sejumlah kejanggalan di LPD Anturan antara lain penyimpanan uang di bank atas nama pribadi Arta Wirawan. Bukan hanya itu, kebijakan manajemen LPD, yang membiaya tanah kapling di beberapa desa di Buleleng, juga dipersoalkan dalam pertemuan itu.
Nyoman Mariana, salah satu nasabah, mengkritik keras manajemen LPD Anturan maupun tim penyelamat LPD. “Kami sama-sama pegang kata-kata ini. Artinya tim penyelamat mempunyai komitmen, bukan sekadar tim gradag-grudug dan apa pengawasannya selama ini? Dalam Perda Provinsi Bali telah diatur bahwa LPD tidak boleh melakukan bisnis kapling tanah,” tegas Mariana.

Baca juga :  Sipir Lapas Ditangkap Karena Lakukan Ini

Dia pun menyebut virus corona adalah alasan baru. Mariana lalu minta Ketua LPD berjanji secara niskala dan sekala.
Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya dibuatlah kesimpulan sebagai hasil pertemuan. Pertama: pembayaran bunga deposito dinolkan dari Juli sampai Desember 2020. Kedua: deposito yang sjatuh tempo wajib diperpanjang dan tidak ada penarikan deposito, kemudian deposito tidak boleh dimutasi ke tabungan. Ketiga: penarikan tabungan tetap berjalan sesuai situasi dan kondisi keuangan LPD. Keempat: penurunan suku bunga deposito.

Ketua LPD Anturan Nyoman Arta Wirawan meyakinkan bahwa dalam waktu enam bulan ini pihaknya mendapat dana untuk membayar dana tabungan nasabah. “Yakin bisa dapat dana lebih untuk membayar uang nasabah,” tandasnya. (robin)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini