Diduga Palsukan Kuitansi, Diadukan ke Polda Bali

0
15
MENGADU - Ketut Gede Pujiama (tengah) didampingi tim kuasa hukumnya saat mengadu ke Mapolda Bali, Kamis (25/60/2020). DenPost/ist

Kerenang, DenPost.id
Seorang warga Sesetan, Denpasar Selatan, Ketut Gede Pujiama (73), Kamis (24/6/2020) mengadukan Wayan Padma, warga Balun, Pemecutan Kaja, Denpasar, ke Mapolda Bali dengan nomor Dumas /238/VI/2020. Pengaduan diterima Kompol Nanang Prihasmoko. Pujiama juga akan mengajukan blokir sertifikat ke BPN Denpasar.

Usai bertemu penyidik Reskrimum Polda Bali, Ketut Gede Pujiama didampingi tim kuasa hukumnya dari kantor Wihartono, Denpasar, menjelaskan bahwa intinya pengaduan ini terkait pensertifikatan tanah miliknya di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Denpasar Selatan, seluas 650 m2, oleh Wayan Padma. Persoalannya, setelah Padma memegang sertifikat yang diduga dengan cara tidak sah yakni tanah itu dijual ke orang lain. Berbekal sertifikat itulah, Padma lantas mengusir paksa beberapa warga yang selama ini menempati tanah tersebut.

Pujiama juga menegaskan bahwa tanah itu memang sah miliknya sebagai ahli waris I Wania atau Samping Wania (alm). “Klien kami merasa tidak pernah jual ke teradu (Padma). Karena itu kami menduga dalam proses pensertifikatan tanah ada pemalsuan dokumen,” ujar AA Eka Darmika, anggota tim kuasa hukum Pujiama.

Baca juga :  Karena Ini, Dinas Perkim Batal Tata Kawasan Kumuh

Dokumen yang diduga palsu itu, sambung Darmika, antara lain kuitansi pembelian tanah. Di kuitansi tertulis pembayaran tanah ke Pujiama seluas 500 m2 tertanggal 10 Maret 1990 sebesar Rp60 juta. Di kuitansi itu tanda tangan Pujiama yang diduga palsu atau tidak identik bila dibanding tanda tangan di dokumen resmi lainnya. Lebih aneh, materai yang dipakai senilai Rp6.000 padahal materai senilai itut baru beredar pada periode 2006-2009. Fisik kuitansi pun diduga palsu yakni produksi 2000, tapi angkanya dicoret seolah-olah tahun 1990 sesuai tahun transaksi.

Baca juga :  Golkar Target Kemenangan 60 Persen

Berdasarkan data resmi, Pujiama menguasai tanah yang semula seluas 30 are lebih itu sejak ayahnya meninggal dunia hingga sekarang. Pujiama tidak menyangkal bila ada beberapa bidang dijual ke orang lain dengan cara sah, namun bukan kepada Padma. Adapun sebagian tanah yang masih miliknya dikontrakkan. Pujiama tahu tanahnya disertifikatkan teradu tahun lalu, namun sempat tak percaya lantaran tak pernah menjual kepada Padma. “Masih banyak kejanggalan lain dalam dokumen pensertifikatan. Untuk itu kami mohon kasus ini segera terungkap agar teradu tidak memakan korban lain,” sambung Wihartono.

Baca juga :  Pamedek Melasti Sulit Dibatasi

Sejatinya, imbuh dia, banyak bukti lain yang dikantongi mengenai dugaan pemalsuan proses pensertifikatan ini. Termasuk surat keterangan jual-beli maupun bukti penguasaan tanah secara terus-menerus. “Beberapa bukti sudah kami lampirkan dalam pengaduan ini. Pelan-pelan kami bongkar semua, tak terkecuali identitas oknum yang terlibat,” tegas Wihartono. (yan)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini