Jaringan Mafia Diduga Tawarkan Tanah Sengketa di Sesetan

0
4
Mafia Tanah

Denpasar, DenPost
Terlapor kasus dugaan pemalsuan kuitansi jual-beli tanah, Wayan Padma, diduga menawarkan jual cepat tanah sengketa, di antaranya milik Joko Sugianto, di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Denpasar Selatan. Informasi yang dikumpulkan di lapangan Minggu ( 28/6/2020) bahwa Padma kembali memasuki rumah Sugianto dengan orang yang diduga calon pembeli. Rumah dua lantai di atas tanah seluas 1,5 are itu ditawarkan Rp600 jutaan. Sungguh harga tidak masuk akal meski dalam kondisi pandemi covid-19.

Menurut sumber terpercaya, Padma yang jalannya dibantu tongkat itu, datang mengendarai motor. Dia bisa bebas masuk lantaran kunci rumah telah dia ganti sebelumnya dengan cara merusak. Sejatinya perusakan dan penggantian kunci sudah dilaporkan ke Polresta Denpasar oleh Joko Sugianto, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya.

Warga menambahkan Padma sudah beberapa kali masuk ke rumah yang tanahnya dibeli Joko Sugianto secara sah dari Ketut Gede Pujiama tahun 2010 ini. “Kayaknya itu calon pembeli. Kabarnya rumah ditawarkan Rp600 jutaan,” kata warga itu sambil minta namanya dirahasiakan.
Tanah seluas 1 are ini awalnya bertuliskan ‘’Milik H.Dedik Sunardi’’, tapi diganti tanah milik H. Nardi, yang juga dikabarkan telah dijual ke orang lain seharga Rp500 juta. “Katanya yang beli baru tahu tanah ini bermasalah setelah transaksi,” imbuh warga lainnya.

Baca juga :  PDP di Jembrana Bertambah , Kasus Positif Stagnan

Untuk diketahui tanah yang ditawarkan Padma itu awalnya seluas 2,5 are. Pecahan dari 670 meter2 dengan sertifikat atas nama Wayan Padma. Dari luas 6 are lebih itu diecer lagi ke beberapa orang. Khusus milik Joko Sugianto seluas 1 are dijual ke H.Dedik Sunardi, dan sisanya 1,5 are yang ada bangunan masih atas nama Wayan Padma . “Padma ada kerja sama dengan makelar tanah. Dia sering ikut Padma lihat lihat rumah di sini,” imbuh warga.

Baca juga :  Sidak, Tim Gabungan Temukan Toko Modern Melanggar

Sedangkan kuasa hukum Ketut Gede Pujiama, Wihartono, mengatakan bahwa tanah itu tak bisa dipindahtangankan, karena sertifikatnya sudah diblokir di BPN Denpasar. Dia menambahkan dugaan akan ada pengalihan hak atas tanah sengketa ini sudah diprediksi. “Itu modus oknum yang terindikasi mafia, ingin jual cepat. Kasihan pembeli terakir akan menanggung kerugian besar. Semoga penyidik cepat bertindak agar praktik seperti itu terhenti,” tegas Wihartono.

Sedangkan Kabid Humas Polda Bali Kombes Syamsi saat dimintai konfirmasi mengatakan setiap laporan warga yang masuk akan dipelajari terlebih dahulu oleh penyidik. Setelah itu barulah ditindak lanjuti. “Saya konfirmasi dulu ke penyidik terkait perekembangan laporan itu,” tegas Syamsi. (124)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini