Turunkan Angka Stunting, Pemkab Gianyar Gelar Rembuk

0
8
Turunkan Angka Stunting, Pemkab Gianyar Gelar Rembuk
REMBUK - Kepala Bappeda dan Litbang Gianyar, Gede Widarma Suharta (kiri) dalam rembuk penurunan stunting di ruang pertemuan Bappeda Gianyar, Senin (29/6/2020).

Gianyar, DenPost

Pemkab Gianyar memastikan program percepatan penurunan stunting di wilayahnya tetap menjadi prioritas di tengah upaya penanganan pandemi covid-19. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Badan Perencanaan, Pembangunan Daerah dan Penelitian dan Pengembangan (Bappeda dan Litbang) Kabupaten Gianyar, menggelar rembuk aksi percepatan penurunan stunting, Senin (29/6).

Kepala Bappeda dan Litbang Gianyar, Gede Widarma Suharta mengatakan melalui rembuk ini diharapkan seluruh perangkat daerah penanggung jawab layanan dengan sektor/lembaga non pemerintah dan masyarakat dapat menyepakati komitmen intervensi terintegrasi penurunan stunting untuk dimuat dalam rencana kerja perangkat daerah tahun 2021.

Rembuk stunting ini bertujuan untuk membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting secara terintegrasi. Pada rembuk kali ini dilakukan penetapan desa sebagai desa lokus atau prioritas intervensi stunting sekaligus menetapkan kesepakatan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam upaya intervensi penurunan stunting tahun 2021.

Dikatakan Kabupaten Gianyar tahun ini masih menjadi fokus pemerintah Provinsi Bali dalam menuntaskan stunting. Hal ini tidak terlepas dari angka prevalensi stunting di Kabupaten Gianyar sebesar 40,9% berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013. Riskesdas dilakukan Kementerian Kesehatan setiap 5 tahun sekali. Hasil Riskesdas 2018, angka prevalensi stunting di Kabupaten Gianyar sebesar 12,1%. Ini menunjukkan telah terjadi penurunan secara signifikan kasus stunting pada balita di Kabupaten Gianyar.

Baca juga :  9 ODGJ Diamankan, Sebagian Diduga Stres Karena Covid-19

Upaya yang dilakukan untuk menurunkan persentase stunting di Gianyar meliputi intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi spesifik merupakan intervensi yang ditujukan kepada anak dalam 1.000 hari pertama kehidupan dan berkontribusi pada 30% penurunan stunting. Kerangka kegiatan intervensi spesifik umumnya dilakukan pada sektor kesehatan dimulai dari masa kehamilan ibu hingga melahirkan balita. Intervensi gizi sensitif dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan dan berkontribusi pada 70% intervensi stunting. Kegiatan terkait intervensi gizi sensitif dapat dilaksanakan melalui beberapa kegiatan yang umumnya makro dan dilakukan secara lintas sektoral.

Baca juga :  Program 2019 Berjalan Baik, Dewan Apresiasi LKPJ Bupati Badung

Widarma Suharta yang Juga Ketua Tim Penanggulangan Stanting  menambahkan upaya yang dilakukan pihaknya secara teknis meliputi sosialisasi, yang tak hanya menyasar ibu yang memiliki anak usia di bawah 2 tahun dan balita, namun juga menyasar kalangan remaja, calon pengantin dan ibu hamil. Memberikan asupan gizi serta pencegahan infeksi, serta diupayakan lingkungan sehat, akses air bersih, pembiayaan pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan sejak PAUD. Juga diupayakan melalui peningkatan ketahanan dan keamanan pangan sampai bantuan sosial kepada keluarga rawan. “Semua ini dilaksanakan tim penanggulangan stunting berdasarkan SK Bupati Gianyar,”tegas  Widarma Suharta.

Berdasarkan Riskesdas 2013 ada 10 desa di Kabupaten Gianyar yang memiliki angka stunting yang cukup tinggi. Diantaranya, Desa Lebih, Siangan, Lodtunduh, Singakerta, Sanding, Manukaya, Pupuan, Taro, Kedisan, dan Bresela. 10 desa ini kemudian menjadi prioritas penanganan stunting hingga tahun 2020 ini. Tahun 2021 akan ditetapkan lagi desa-desa yang perlu menjadi prioritas penanganan stunting, mengingat 10 desa sebelumnya telah cukup berhasil dalam penurunan angka prevalensi stunting.

Baca juga :  Garase Terbakar, Hanguskan Ini

Meskipun telah terjadi penurunan angka prevalensi stunting, upaya-upaya perlu terus dilakukan dan diharapkan desa-desa lain dapat menduplikasi kegiatan tersebut disesuaikan dengan kondisi desa masing-masing. “Kami melibatkan semua OPD dan stakeholder dalam menangani stunting ini, mulai dari Dinas Kesehatan beserta puskemas, PKK, PMD dalam penanganan gizi serta dinas PUPR, DLH, Dinas Pendidikan, dan lain-lain dalam pembangunan infrastrukturnya,”kata Widarma Suharta.Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Dalam jangka pendek, stunting menyebabkan gagal tumbuh, hambatan perkembangan kognitif dan motorik, dan tidak optimalnya ukuran fisik tubuh serta gangguan metabolisme. Dalam jangka panjang, stunting menyebabkan menurunnya kapasitas intelektual. Gangguan struktur dan fungsi saraf dan sel-sel otak yang bersifat permanen dan menyebabkan penurunan kemampuan menyerap pelajaran di usia sekolah dan penurunan produktivitas saat dewasa.(c/116)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini