Berjuang Hidup, Widiantara dan Sukma Dewi Jualan Ini

0
6
Picsart 06 30 07.40.22
NAFKAH SENDIRI - Kakak adik Made Widiantara (19) dan Ni Komang Sukma Dewi (11), didampingi Kelian Dinas Pupuan, I Made Sunarta, yang menyambung hidup dengan mencari nafkah sendiri.

Mangupura, DenPost

Meski Badung terkenal memiliki pendapatan asli daerah yang tinggi di Bali, namun masih ada masyarakat yang perlu dibantu. Salah satunya kakak beradik di Desa Mengwitani.

Sepasang kakak adik Made Widiantara (19) dan Ni Komang Sukma Dewi (11) harus berjuang mencari nafkah sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mereka harus bekerja lantaran ayahnya I Putu Sudiana sudah meninggal, sementara ibunya Ni Wayan Diana telah memiliki kehidupan sendiri dengan keluarga barunya.

Pasangan kakak adik ini berasal dari Dinas Pupuan, Banjar Panca Dharma, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi. Mereka tinggal berdua di rumah sederhana peninggalan sang ayah. Syukur keduanya masih memiliki saudara yang selama ini telah banyak membantu.

Kelian Dinas Pupuan, I Made Sunarta, mengakui Made Widiantara dan Ni Komang Sukma Dewi, hanya tinggal berdua, setelah ayahnya meninggal sekitar tahun 2013 lalu, dan ibunya menikah lagi selang beberapa tahun kemudian. “Jadi, sekarang hanya tinggal berdua. Punya kakak tapi mengalami gangguan jiwa dan sekarang harus keluar masuk rumah sakit jiwa,” kata Sunarta, Selasa (30/6/2020).

Baca juga :  Rumah Di-police Line, Riska Bakal Jadi Saksi di Polda

Lebih lanjut dikatakan Sunarta, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, Made Widiantara yang berstatus pelajar kelas XII di SMA Widia Brata Mengwi harus bekerja paruh waktu untuk mendapatkan penghasilan agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya dirinya, melainkan juga adiknya. “Dia kerjanya bantu membersihkan warung, kerjanya dari sore setelah pulang sekolah. Namun penghasilannya tak menentu, kadang sebulan Rp500 ribu,” ujarnya.

Ni Komang Sukma Dewi sendiri yang kini masih duduk di bangku SD juga ikut membantu tetangganya membuat canang untuk dijual. Setiap membantu membuat canang ia diberi upah Rp10 ribu, cukup untuk kebutuhannya termasuk bekal sekolah. “Kalau untuk masalah makan sehari-hari bisa lah dari penghasilannya sendiri bekerja, termasuk ada juga bantuan dari kerabat dan dari desa. Hanya yang jadi masalah sekarang untuk biaya sekolah yang terus terang belum ada jalan keluar,” ungkapnya.

Baca juga :  Dua Tahun, 8 Kasus Pencabulan Terhadap Anak di Bawah Umur Terjadi di Badung

Menurut penuturan Sunarta, biaya sekolah Made Widiantara sudah nunggak sekitar dua tahun. Karena biaya sekolah sebesar Rp400 ribu per bulan, dikali 24 bulan (2 tahun), maka sebesar Rp9.600.000 tunggakan sekolah yang harus dibayar. “Pihak sekolah sebetulnya sudah memberikan dispensasi walau sudah nunggak dua tahun. Tapi bagaimanapun kan tetap harus dibayar. Kami harapkan pihak terkait, dari pemerintah atau dari dari manapun untuk bisa membantu,” harapnya. (115)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini