Kembali Bergairah, Industri Ekspor Klaim Mampu Bertahan di Masa Pandemi

Kembali Bergairah, Industri Ekspor Klaim Mampu Bertahan di Masa Pandemi
Ketut Dharma Siadja

Sumerta Kauh, DenPost

Di balik ringkihnya sektor pariwisata bertahan pasa masa pandemi Covid-19, kondisi sebaliknya justru terjadi terhadap sektor yang tak populer. Sejumlah pelaku industri ekspor kerajinan bahkan mengklaim usahanya mulai bergairah sejak Juni awal.

“Tiga bulan sebelumnya, Maret, April dan Mei, aktivitas kami anjlok sampai 70 persen. Tapi memasuki Juni, sudah mulai naik, ya sekitar 20 persen,” ungkap Ketut Dharma Siadja, Ketua DPD Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia Bali.

Dijumpai pada Kamis (2/7/2020) di kantor Asephi Bali, pria asal Ubud ini mengatakan penurunan tiga bulan sebelumnya disebabkan negara lain menutup wilayah mereka. Untuk menghindari penumpukan barang di pelabuhan maka dilakukan penundaan pengiriman.

Namun seiring makin kondusifnya kondisi di tengah pandemi, maka negara konsumen seperti Eropa dan Amerika mulai membuka aktivitas ekonominya. Siadja mengatakan, sejatinya industri ekspor tidak terpengaruh langsung oleh pandemi, karena segmentasi pasarnya berbasis luar negeri.

Baca juga :  Strategis, Peran SMSI Dalam Pilkada 2020

Dengan kondisi itu, dia menilai industri ekspor layak dijadikan komoditas dalam mengerakkan ekonomi Bali, khususnya di masa pandemi. “Saat ini kami juga mulai mempekerjakan karyawan, walaupun belum sepenuhnya. Tapi kami optimis mampu bergerak di masa pandemi,” terangnya.

Dia menyebutkan, bergeliatnya industri ekspor juga berpengaruh kepada gairah UMKM dan sektor pendukung lainnya, seperti pertanian. Menurutnya, Pemprov mesti mempertimbangkan industri selain pariwisata untuk menggerakkan perekonomian Bali.

Baca juga :  Hotel White Rose Akan Dieksekusi, Kuasa Hukum Pertahankan Hak Milik

Salah satunya industri ekspor kerajinan yang juga membawa efek domino (berantai) terhadap masyarakat. “Banyak hotel, restoran, agen perjalanan dan objek wisata yang tutup. Justru industri ekspor kerajinan mulai bergerak perlahan tapi pasti,” paparnya.

Berkorelasi dengan upaya menggerakkan ekonomi di era new normal, ia berpandangan Pemprov mesti meningkatkan anggaran pembinaan para Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dengan mengarahkan para UKM berani berpameran di dalam negeri maupun di luar negeri.  “Dengan begitu UKM bisa naik kelas menjadi ekporter, sehingga ketergantungan masyarakat Bali terhadap industri pariwisata bisa di sebarkan ke industri kerajinan,” pungkasnya. (106)

Baca juga :  Positif Covid-19 Bertambah, Gugus Tugas Rekomendasikan Dua Cara Pencegahan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini