Wartawan Diperiksa, Ulah Oknum Mafia Tanah Mulai Terkuak

0
5
Wartawan Diperiksa, Ulah Oknum  Mafia Tanah Mulai Terkuak
BERI PENJELASAN - Joko Sugianto (No.2 dari kanan) didampingi tim LBH KAI Bali, Agus Samijaya, dkk., memberikan penjelasan kepada wartawan usai diperiksa di Polda Bali, Selasa (7/7/2020) kemarin. (DenPost/ist)

Denpasar, DenPost
Penyidik Reskrimum Polda Bali, Selasa (7/7/2020) memeriksa wartawan senior, Joko Sugianto, menyangkut sengketa kepemilikan tanah di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Densel. Selama pemeriksaan, Joko Sugianto didampingi tim LBH KAI Bali, Agus Samijaya, dkk.

Kepada wartawan, Agus Samijaya mengatakan bahwa kliennya dimintai klarifikasi atas tuduhan I Wayan Padma bahwa Joko Sugianto membangun rumah atau menyerobot tanahnya seluas 1,5 are.

Benarkah demikian? “Bagaimana klien kami (Pak Joko) dituduh menyerobot? Dia kan membeli secara sah dari Pujiama jauh sebelum sertifikat atas nama Padma terbit. Tanah itu juga sudah dibangun rumah permanen serta ditempati,’’ tegas Agus Samijaya, usai pemeriksaan.

Dari hasil pemeriksaan sekitar dua jam itulah, tambahnya, akhirnya sedikit menguak sepak-terjang Padma yang terindikasi sebagai mafia tanah. Padma sebelum mengusir Joko Sugianto, pernah mengusir warga lain di lokasi itu, selanjutnya menjual tanah ke orang lain. Dalam menjalankan aksinya, Padma diduga melibatkan banyak oknum lintas profesi, termasuk preman.

Baca juga :  2019, Denpasar Salurkan KUR Rp900 Miliar

Ulah Padma itu bukan hanya meresahkan Joko Sugianto. Pujiama, selaku pemilik tanah secara sah sesuai wasiat I Wania (alm.), telah melaporkan Padma ke Polda Bali dengan dugaan pemalsuan kuitansi jual-beli dan keterangan penguasaan tanah (seporadik). Pujiama merasa tidak menjual tanahnya ke Padma, melainkan hanya kepada Joko Sugianto tahun 2010. “Karena itu kami minta Polda Bali menghentikan atau menunda proses hukum laporan Padma, dan sebaliknya mempercepat laporan kasus dugaan pemalsuan Pujiama hingga ada putusan hakim berkekuatan hukum tetap,” beber Agus Samijaya.

Pengacara mantan aktivis ini menilai laporan Pujiama dirasa lebih penting untuk dipercepat karena akan mengungkap sah-tidaknya klaim Padma atas tanah itu. Faktanya, kuitansi pembelian tanah ke Pujiama saja diduga cacat hukum. Materai dipakai untuk kuitansi tertanggal 10 Maret 1990 senilai 6.000 (enam ribu rupiah) padahal materai tahun itu senilai 1.000 (seribu rupiah). Buku kuitansi yang dipakai pun terbitan tahun 2000 ke atas. Tanda tangan Pujiama di kuitansi juga diduga palsu. Fakta lain keterangan penguasaan tanah terindikasi palsu. “Sejumlah saksi di lapangan menyebutkan tidak mengenal Padma tinggal di tanah yang dibeli Pak Joko atau menguasai tanah itu. Dengan demikian , klaim Padma tidak berdasar sama sekali,” tegas Samijaya.

Baca juga :  Perempuan Asal Buleleng Gantung Diri di Parkiran Krematorium

Joko Sugianto menegaskan telah memberikan keterangan lengkap di Polda Bali. “Saya jelaskan beli tanah seharga Rp150 juta dengan cara mencicil ke Pujiama. Saya juga bayar pajak di awal pembelian. Tanah itu pipilnya masih utuh sehingga proses persertifikatannya cukup lama, jadi tidak benar kalo saya nyerobot tanah Padma,” jelasnya.

“Sejak tanah itu saya beli dan bangun tahun 2010, tidak ada pihak mana pun yang keberatan,” imbuh Sugianto.
Persoalan baru muncul tahun 2019 akhir, dimana Padma mengklaim sebagai pemilik tanah. Padma juga mengusir wartawan berambut panjang itu dari rumahnya atau membayar tanah itu lagi.

Baca juga :  10.154 Peserta Ikuti Tes CPNS di Denpasar

Sedangkan Agus Sujoko, anggota LBH KAI lain, yang dimintai konfirmasi di tempat terpisah mempersoalkan laporan perusakan rumah Joko Sugianto di Polresta Denpasar yang masih jalan di tempat. “Seharusnya polresta mempercepat proses hukum perusakan tersebut, bukan malah menawarkan penggantian gembok,” bebernya.

Agus Sujoko menambahkan bila proses hukum laporan perusakan itu ngadat, pihak terlapor dikawatirkan bisa mengulangi perbuatannya lagi. “Informasi di lapangan kan gitu, terlapor bebas keluar-masuk objek sengketa. Nah kalau barang-barang di dalam hilang, siapa tanggung jawab?” tuding Agus Sujoko. (yan)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini