Kipas Wayang Kamasan Tetap “Hidup” di Masa Pandemi Covid-19

0
16
Kipas Wayang Kamasan Tetap “Hidup” di Masa Pandemi Covid-19
WAYANG KAMASAN - Salah seorang pelukis saat membuat kipas berlukiskan wayang kamasan.

Semarapura, DenPost

Mendunia dengan lukisan wayangnya, Desa Kamasan, Klungkung tak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Namun sejak pandemi covid-19, pelancong mancanegara maupun domestik mulai lesu. Penjualan cenderamata khas Kamasan yang menjadi tumpuan hidup warga pun terdampak. Namun, di tengahpandemi ini, ada sejumlah pelukis yang tetap bertahan dan masih berkarya.

Salah satunya Wayan Pande Sumantra. Pelukis asal Banjar Pande, Desa Kamasan ini  merupakan salah seorang warga yang paling merasakan perubahan ini. Pria yang belajar melukis sejak kelas IV SD tersebut menuturkan, dulu hanya fokus untuk menjual lukisan wayang kamasan. Namun, seiring perkembangan pasar, dimulai tahun 2004 ia pun berinovasi dengan membuat kipas, tas, dan keben (sokasi) berlukiskan wayang kamasan.

Baca juga :  Warung di Devil Tear's Mulai Tutup, Mobil Angkutan Wisatawan Banyak Dijual

“Awalnya saya buat lukisan saja, tapi biar tidak monoton saya bersama istri berinovasi membuat kipas dan keben,” terang Pande Sumantra, belum lama ini.

Sebelum virus corona merebak, kipas wayang kamasan menjadi primadona di kalangan wisatawan. Bahkan dalam sehari, penjualannya bisa mencapai 80 sampai 100 buah. Tapi, memasuki bulan Maret kunjungan wisatawan mulai lesu. Hal inipun berdampak pada penjualan kipas yang langsung menurun drastis.

“Sejak Maret penjulan mulai lesu, karena tidak ada tamu. Pesanan turun sampai 50 persen,” katanya.

Di tengah pandemi, Pande Sumantra bersama istrinya, Wayan Sinarwati tetap bersyukur masih menerima pesanan. Walaupun jumlahnya tak sebanyak dulu. Kini ia hanya mengandalkan pesanan kipas yang datang dari warga lokal maupun dari Pulau Jawa. “Yang pesan ada dari warga lokal ada juga dari Jawa yang pesan lewat travel. Biasanya kipas ini dipakai untuk souvenir, prawedding dan hiasan,” paparnya.

Baca juga :  Paman dan Keponakan Duel Gara-gara Ini

Dengan proses pengerjaan selama satu hingga dua hari, setiap kipas dijual dengan harga bervariasi. Tergantung pada motif, ukuran dan juga jenis kayunya. Untuk kipas standar yang dibuat dengan kayu jenis Lemanuh dijual Rp150 ribu sampai Rp 200 rib untuk ukuran kecil yakni 23 cm. Sedangkan ukuran 30 cm harganya bisa Rp 500 ribu sampai Rp1 juta. Ukuran terbesar yakni  50 cm bisa dijual dengan harga Rp 2 juta.

Baca juga :  Pasien Positif Covid-19 Mulai Depresi, RSUD Klungkung akan Lakukan Ini

“Kalau bahannya kayu cendana harganya lebih mahal. Ukuran 23 cm bisa sampai Rp 3 juta. Jenis ini biasanya yang pesan kalangan pejabat,” katanya.

Untuk menyiasati lesunya penjualan di kalangan wisatawan, saat ini Pande Sumantra mulai beralih ke penjualan secara online. Katanya, cara ini cukup ampuh, mengingat konsumen bisa datang dari berbagai kalangan. Dagangan yang ditawarkan pun tidak hanya fokus pada lukisan maupun kipas, tetapi ada juga tas dan keben khas Kamasan.

“Keben harganya dari Rp100 sampai Rp 600 ribu. Kalau tas, bahannya daun pandan, itu harganya berkisar Rp 200 ribu,” pungkasnya. (119)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini