Pastikan Jarak Fisik Saat Memeriksa, Dokter Bisa Dibantu Ratna

Pastikan Jarak Fisik Saat Memeriksa, Dokter Bisa Dibantu Ratna
UJI COBA - Uji coba Robot Asisten Udayana (Ratna) pada Jumat (10/7/2020).

Dangri Klod, DenPost

Tenaga medis, khususnya dokter yang merawat pasien positif covid-19, menjadi klaster yang rawan terinfeksi. Potensi itu terjadi karena dokter sangat sulit menerapkan jarak fisik saat memeriksa pasien, sehingga harus berdekatan.

Berupaya mengatasi persoalan itu, tim robotec yang terbentuk dari Jurusan Teknik Elektro Universitas Udayana menciptakan terobosan berupa Robot Asisten Udayana disingkat Ratna. Pembina Tim Robotec, I Wayan Widiada, Jumat (10/7/2020) mengatakan, robot mobil ini dapat diperintah untuk membantu perawatan pasien meliputi membawakan logistik, alat pelindung diri, memeriksa temperatur dan memeriksa tensi tanpa harus bersentuhan.

“Dokter bisa menggerakkan robot dari luar ruangan, sebagai operator. Sementara robotnya bisa digerakkan menuju ruang pasien,” ungkapnya saat diwawancarai wartawan. Kata dia, robot ini juga menjadi media komunikasi antara dokter dan pasien.

Kedua pihak dapat berkomunikasi melalui layar yang dipasang di robot, yang tersambung oleh internet. “Misalnya disuruh mengecek darah, bisa langsung dikerjakan, hasilnya bisa diketahui lewat layar,” terangnya didampingi I Gede Feryanda, salah satu penggarap.

Baca juga :  Cuaca Buruk, Penyeberangan Laut di Klungkung Buka Tutup

Widiada menjelaskan, robot ini terdiri dari tiga bagian pokok yang tak terpisahkan. Antara lain, bagian mekanikal yang meliputi bodi robot, motor penggerak jenis DC. Kedua, agian elektrikal, seperti mikrokontroler, dan ketiga adalah program komputer.

“Sebagai navigasi, kita gunakan signal radio. Sebenarnya ada lampu UV, namun sementara dilepas. Itu bagian yang tidak terpisahkan,” terangnya. Dengan signal radio, kata dia, jarak ideal yang dapat ditempuh mencapai 500 meter. Bahkan bisa diatur lebih jauh, apabila dibutuhkan.

Baca juga :  Gubernur Lepas Pendistribusian Ribuan Set Top Box

Robot ini dikerjakan oleh tim yang beranggotakan 10 orang, dibagi tiga tim, dengan durasi pengerjaan lima minggu. Ditanya dana yang dihabiskan, Widiada mengaku belum dapat memastikan. Namun kepada rektorat, pihaknya mengajukan anggaran sebesar Rp 80 juta.

Feryanda menjelaskan, robot ini memiliki berat 15 Kg dan tinggi 185 cm. Diakuinya bobot tersebut masih terbilang berat, sehingga berikutnya akan dilakukan evaluasi untuk meringankan bobot robot. Pada tahap uji coba ini, kata dia, timnya hanya memproduksi satu robot. Setelah melalui tahapan uji coba dan terbukti efektif, timnya belum menambah produksi, namun mengoptimalkan fungsi robot agar lebih bermanfaat.

Baca juga :  Akses "Rurung Bangke" di Kesiman Petilan Dibatasi, Ini Penyebabnya

“Diproduksi untuk uji coba satu dulu, ke depan akan ditambah, kalau efektif. Belum ditambah, tapi diotimalkan agar tidak hanya dapat digunakan saat pandemi. Kami akan maksimalkan, bentuknya dan agar lebih mudah dikendalikan,” pungkasnya. (106)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini