Memuliakan Sumber Air, Pergub 24 Jadi Landasan Koster Seimbangkan Pembangunan Bali

0
11
Gubernur Bali, Wayan Koster

Dangin Puri, DenPost

Memuliakan sumber mata air menjadi bagian penting dalam visi Nangun Sat Kerti Loka Bali yang dicetus Gubernur Bali, Wayan Koster. Mewujudkan tujuan itu, dia telah menerbitkan Peraturan Gubenur (Pergub) No. 24 Tahun 2020, Jumat (10/7/2020).

Pergub ini mengatur tentang pelindungan danau, mata air, sungai, dan laut, yang selama ini diakuinya luput dari perhatian umum. “Kita akan lakukan kegiatan serentak di seluruh Bali, pembersihan danau, sungai dan sumber air lainnya. Supaya air kita bagus,” ujarnya dalam jumpa pers di Gedung Gajah, Jaya Sabha, Denpasar.

Melihat kualitas sumber mata air di Bali, dia menyebutkan saat ini tergolong mengkhawatirkan. Baik dipandang dari debitnya, maupun kualitasnya. Menurutnya, kondisi ini akibat dari abainya masyarakat dalam memelihara sumber air.

Baca juga :  PLN Masih Terima Keluhan Akibat Layang-layang

“Sumber air kita semakin berkurang, penebangan pohon banyak. Sungai mati banyak, setengah mati makin banyak. Jika dibiarkan, kita akan kesulitan air untuk kehidupan,” bebernya, yang saat itu didampingi Ketua PHDI Bali, dan Bendesa Agung Majelis Desa Adat.

Lebih rinci, dia menyebutkan bahwa danau di Bali makin tercemar, yang berdampak kepada kualitas air yang kotor. Melalui gerakan mendasar dalam rangka menyeimbangkan pembangunan Bali, maka dia memandang harus ada kesadaran kolektif menjaga sumber air.

“Kearifan lokal (menjaga sumber air) ini sudah ada, dan diwariskan sejak lama. Ini akan saya jadikan gaya hidup,” ujarnya penuh yakin. Agar segera terwujud, program ini juga bersinergi pihak-pihak terkait, salah satunya Pelindo III, melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.

Baca juga :  Suwirta Sebut Turis Masih Ramai ke Nusa Penida

Dalam Pergub ini, ada sebanyak 13 nilai pokok perlindungan sumber air secara sekala dan niskala. Antara lain, dilakukan dengan melaksanakan upacara penyucian secara berkala meliputi penyucian danau atau Danu Kerthi, penyucian laut atau Segara Kerthi dan penyucian tumbuh-tumbuhan atau Wana Kerthi.

“Upacara penyucian danau dan laut dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon Wuku Uye atau Tumpek Uye. Sedangkan upacara penyucian tumbuh-tumbuhan setiap Saniscara Kliwon Wuku Wariga atau Tumpek Wariga,” ujar Koster di hadapan wartawan.

Tingkatan pelaksanaan upacara penyucian meliputi upacara tingkat alit, yang dilaksanakan setiap enam bulan Bali oleh desa adat. Upacara tingkat utama dilaksanakan setiap lima tahun kalender Bali oleh Pemerintah Provinsi.

Baca juga :  Tunggu Hasil Lab, Pasien Asal Bangli Masih Diobservasi di RSUP

Dalam melaksanakan kegiatan pelindungan danau, mata air, sungai, dan laut, dia mengatakan desa adat berkewajiban membuat pararem dan atau Amawig, yang salah satunya mengatur kewajiban penanaman pohon pada setiap pelaksanaan upacara Tumpek Wariga.

Selain itu, dia meminta masyarakat berperan aktif secara bergotong-royong dalam kegiatan perlindungan danau, mata air, sungai, dan laut. Peran aktif masyarakat dilakukan secara perorangan, kelompok orang dan atau organisasi.

Peran aktif masyarakat diwujudkan dalam forum partisipasi kegiatan pelindungan danau, mata air, sungai, dan laut pada tahap perencanaan, pelaksanaan, danatau pengawasan, partisipasi penanaman dan pemeliharaan pohon serta pembersihan sampah dan pengaduan terhadap pelanggaran. (106)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini