Polda Periksa Saksi Mafia Tanah Sesetan, BPN Panggil Pujiama, Padma Mangkir

0
11
Polda Periksa Saksi Mafia Tanah Sesetan, BPN Panggil Pujiama, Padma Mangkir
PENUHI PANGGILAN - Saksi Hadi memenuhi panggilan Polda Bali guna melanjutkan pemeriksaan kasus dugaan pemalsuan kuitansi jual-beli tanah di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Densel. (DenPost/ist)

Kereneng, DenPost
Polda Bali melanjutkan pemeriksaan saksi kasus dugaan pemalsuan kuitansi jual-beli tanah di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Denpasar Selatan, secara maraton. Setelah Senin (13/7/2020) memeriksa saksi korban, Ketut Gede Pujiama, giliran Selasa (14/7/2020) memeriksa saksi Hadi.

Ditanya usai pemeriksaan yang memakan waktu sekitar 1,5 jam itu, Hadi mengaku menempati tanah Pujiama hasil oper kontrak dari Gono (alm.) tahun 2014 sebesar Rp50 juta. Tanah seluas 1 are (100 meter2) itu dibanguni rumah permanen dengan masa kontrak hingga tahun 2042 dan diperpanjang lagi hingga 2047 mendatang. Surat kontrak tanah ditandatangani Pujiama selaku pemilik tanah, Kaling Dukuh Sari Wayan Sujana, serta diketahui Lurah Sesetan I Nyoman Agus Mahardika.
Hadi kepada penyidik juga menyerahkan bukti perjanjian kontrak, kuitansi pembayaran, surat somasi dari Kumdam Udayana, serta foto peristiwa pengusiran. “Saya oper kontrak dari Pak Gono, kemudian saya perpanjang ke Pak Pujiama,” beber Hadi.

Bagaimana dengan Wayan Padma? Hadi mengaku kenal dengan Padma setelah tahun 2017. Saat itu Padma bersama Muhaji minta Hadi agar meninggalkan rumahnya karena tanah yang ditempatinya bukan milik Pujiama. ‘’Wayan Padma datang ke rumah saya membawa sertifikat tanah. Katanya tanah yang saya tinggali adalah tanah milik dia yang dijual ke Muhaji. Atau saya bayar tanah itu Rp750 juta,” tegas Hadi.

Baca juga :  Terapkan PKM, Desa Adat Denpasar Data Penduduk Pendatang

Meski begitu, menurut dia, Padma hanya menunjukkan sertifikat tanah, namun tidak mengizinkan Hadi membacanya. “Saya tidak dikasih baca sertifikat itu,” terangnya.

Selanjutnya awal tahun 2020, Muhaji mendatangi rumah Hadi lagi sambil mengatakan tanah itu sudah bersertifikat atas namanya. Muhaji lagi-lagi minta Hadi dan keluarganya agar mengosongkan rumahnya. Hendra, anak Hadi, juga dipanggil Satpol PP Denpasar terkait sengketa ini. Bukan itu saja. Muhaji bersama anaknya sempat mengusir paksa Hadi dan keluarganya. Persoalan tidak berhenti disana. Pihak Kumdam Udayana lalu turun tangan dengan melayangkan somasi tiga kali ke Hadi. Isi somasi menyatakan tanah yang ditempati Hadi milik Muhaji yang dibeli dari Padma. Sedangkan Padma membeli dari Pujiama tahun 1990 dengan kuitansi yang kini diusut Polda Bali lantaran diduga palsu. Somasi tersebut diabaikan Hadi dengan alasan bahwa dia mengontrak dari Pujiama selaku pemilik sah.

Baca juga :  Waspada, Ini Gejala Stunting pada Anak

“Saya sudah tanya ke Pujiama beberapa kali, dan jawabannya tidak pernah menjual ke Padma atau Muhaji, ” tegas Hadi.

Sementara itu Pujiama yang diwakili kuasa hukumnya, Wihartono, memenuhi panggilan BPN Denpasar. Panggilan ini untuk klarifikasi data dan penjelasan blokir sertifikat yang diajukan Pujiama. Pemanggilan itu turut disampaikan ke Padma, namun tidak hadir.

Pihak perwakilan atau kuasa hukum Padma yang pekan lalu mendatangi BPN tidak menyampaikan pemberitahuan atas ketidakhadirannya ini. Akibatnya, BPN hanya melakukan pertemuan dengan tim kuasa hukum Pujiama. (yan)

Baca juga :  Penuhi Kebutuhan Darah, PMI Rajin "Jemput Bola"

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini