Amankan Wilayah Desa Adat, Pecalang Denpasar Tak Digaji

0
6
Amankan Wilayah Desa Adat, Pecalang Denpasar Tak Digaji
Made Mudra

Pemecutan, DenPost

Pecalang Desa Adat Denpasar menjadi garda terdepan dalam menjaga keamanan wilayah desa adat dari pelanggaran dan menangkal penyebaran virus corona. Tugas yang dijalankan secara bergiliran 24 jam tanpa digaji.

”Sesuai perarem atau awig-awig di desa adat, pecalang merupakan bagian dari struktur prajuru di desa. Apa menjadi keputusan desa wajib dilaksanakan dan diamankan oleh pecalang. Seperti ada perarem kehidupan era baru (new normal) pecalang mengedukasi atau memberi penjelaskan kepada masyarakat soal bahaya penularan virus corona agar masyarakat disiplin mengikuti imbauan pemerintah daerah, provinsi dan pemerintah pusat dalam menjalankan kehidupan baru ini,’’ kata Ketua Pecalang Desa Adat Denpasar yang juga Manggala Agung Pasikian Pecalang Provinsi Bali, I Made Mudra, Rabu (15/07/2020).

Baca juga :  Satu Perawat RS Swasta di Denpasar Positif Covid-19

Ia menjelaskan, pecalang bersama prajuru banjar adat melakukan pencegahan wabah virus corona di lapangan dengan melakukan pencegahan, pengawasan dan pendataan penduduk pendatang (duktang) yang baru datang maupun yang sudah tinggal lama di wilayah desa adat Denpasar. Mengingat pecalang menjadi garda terdepan di masing-masing wilayah desa adat bekerja tanpa pamerih dan tulus ikhlas guna dapat memutus mata rantai virus corona. Peran pecalang sangat peka dan peduli terhadap lingkungan untuk memberikan pemahaman dan pengertian bahaya virus corona.

Baca juga :  Pegawai RSUD Wangaya dan Tukang Panggul Meninggal Covid-19

Pecalang bukan hanya mengamankan upacara keagamaan seperti upacara perkawinan, ngaben maupun yag upacara lainnya yang melibatkan banyak orang. ”Pecalang dengan suka rela menjalankan tugas dan tanpa digaji atau minta imbalan,’’ ujar Mudra.

Ia mengungkapkan, pecalang mengamankan kegiatan upacara keagamaan yang diselanggarakan di jalan raya selalu berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Denpasar dan aparat kepolisian. Karena pecalang yang ada di 105 banjar adat yang bernaung di bawah desa adat Denpasar menjalankan konsep ngayah bukan sekadar ngayah (bertugas), layah (lapar), mayah (dibayar). ”Kami bekerja dengan tulus ikhlas tanpa mengharapkan imbalan. Kalau ada bantuan dari desa adat kita terima dengan baik, bukan meminta-minta,’’ terangnya.

Baca juga :  Datang dari Zona Merah, 29 Duktang Dipulangkan ke Jatim

Mudra menyatakan, pecalang dalam menjalankan tugas saat pandemi virus corona rentan tertular karena tugas yang dijalankan langsung berhadapan dengan masyarakat. Karena itu, pecalang seharusnya dapat perhatian lebih dari pemerintah atau desa adat karena tugas yang dijalankan penuh resiko. ”Kami tidak pernah menuntut gaji atau honor, karena konsep tugas yang dijalankan pecalang adalah ngayah dengan sukarela,’’ tandasnya. (103)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini