Kasus Mafia Tanah, Jurnalis Senior Diperiksa Nonstop

0
11
Kasus Mafia Tanah, Jurnalis Senior Diperiksa Nonstop
USAI PEMERIKSAAN - Joko Sugianto (No.2 dari kiri) didampingi kuasa hukumnya dari LBH KAI Bali, Agus Samijaya, usai pemeriksaan di Ditreskrimum Polda Bali, Kamis (16/7/2020).

Denpasar, denpost.id
Ditreskrimum Polda Bali melanjutkan pemeriksaan saksi korban mafia tanah, Joko Sugianto, Kamis (16/7/2020). Jurnalis senior itu dimintai keterangan penyidik Unit III selama 3 jam nonstop.

Gerak cepat Polda Bali ini bertolak belakang dengan Unit I Sat Reskrim Polresta Denpasar. Laporan perusakan rumah yang diajukan wartawan yang akrab dipanggil Yanto ini berlalu empat bulan, namun jalan di tempat. “Kami apresiasi gerak cepat penyidik Polda Bali, tapi kami sayangkan laporan klien kami di Polresta Denpasar yang tidak ada progresnya,” kata kuasa hukum Sugianto dari LBH KAI Bali, Agus Samijaya, usai pemeriksaan.

Kembali ke materi pemeriksaan, tambahnya, masih seputar pendalaman bukti- bukti kepemilikan rumah Sugianto. “Ini pemeriksaan sebagai saksi kasus pemalsuan kuitansi jual-beli tanah yang diajukan Pujiama,” imbuh Samijaya. Dari sekitar 22 pertanyaan, penyidik kembali mempertanyakan adanya kuitansi pembelian tanah Wayan Padma ke Pujiama yang terindikasi palsu. Kuitansi tertanggal 10 Maret 1990 itu, tapi menggunakan meterai enam ribu rupiah. Padahal meterai itu baru beredar tahun 2006-2009, sedangkan tahun1990 masih meterai seribu rupiah. Blanko kuitansi juga keluaran tahun 2000. Guna menghilangkan jejak, angka dua dicoret. “Ya klien kami tahu adanya kuitansi itu setelah ditanyakan ke Pujiama, dan ternyata tidak benar. Pujiama menyangkal telah menjual tanahnya ke Padma. Dia yakin hanya menjual ke klien kami,” jelas Samijaya.

Baca juga :  Wisatawan Eropa Masih Kunjungi Nusa Gede

Berdasar kuitansi yang diduga palsu itulah Samijaya yakin kasus ini merupakan ulah mafia tanah. Banyak oknum lintas profesi yang diduga terlibat dalam perkara ini. Terlebih dari beberapa saksi, termasuk Sugianto, tidak mengenal nama Wayan Padma tinggal dan menguasai secara terus-menerus tanah di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Densel, atau tepatnya di tanah yang ditinggali Sugianto. “Keterangan seporadik yang digunakan mengurus sertifikat pantas disebut palsu. Banyak saksi yang menyatakan tanah di Gang Merak itu milik Pujiama,” tegas Samijaya.

Baca juga :  Komunitas Otomotif Sumbang Ribuan Masker ke Polisi

Oleh karena itu, dia bersama LBH KAI Bali minta Polda Bali segera menuntaskan perkara ini agar korban tidak banyak berjatuhan. Harapan serupa ditujukan kepada Polresta Denpasar supaya segera merampungkan laporan perusakan rumah Sugianto yang direbut Wayan Padma. “Kami di Tim LBH KAI juga sepakat minta Satgas Pencegahan dan Pemberantasan Mafia Tanah Bali turut turun tangan,” tandas mantan aktivis pergerakan mahasiswa ini.

Permintaan Samijaya ini diperkuat pernyataan ‘’srikandi’’ LBH KAI Bali, Anisa Defbi Mariana. Menurut pengacara muda ini, kasus mafia tanah bisa merugikan banyak pihak. Indikasinya, terduga pelaku cepat-cepat mengalihkan hak tanah yang dirampas ke pihak lain melalui PTSL yang dicetuskan Presiden Jokowi. Modus operandi ini, tegas Anisa, jelas untuk mengaburkan tindak kejahatan agar tidak terdeteksi aparat penegak hukum. “Sepakat dengan Pak Samijaya, kejahatan mafia tanah harus diberantas tuntas agar tidak menciderai program pemerintah Presiden Jokowi,” tandas Anisa di Polda Bali.

Baca juga :  Dua Orang di Padangsambian Diduga Positif Covid-19, Satgas Lakukan Monev

Sehari sebelumnya, yakni Rabu (15/7/2020) penyidik juga memeriksa saksi Wulan Prasetyo. Dia adalah tetangga Sugianto di Batas Dukuh Sari Gang Merak Sesetan, Densel. Saksi menjelaskan ke penyidik bahwa tanah di Gang Merak, termasuk yang dibeli Sugianto, milik Pujiama. Itu dibuktikan lewat perjanjian kontrak sejak tahun 2002 hingga 2035 kepada Pujiama, bukan Padma. ” Nama Padma muncul tahun 1998 lalu. Tapi warga tidak ada yang kenal dia. Semua warga bayar kontrak ke Pujiama. Pak Joko Sugianto beli tanah juga ke Pujiama,” terang Yoyok.

Guna mengonfirmasi data lebih detil, BPN Denpasar, Jumat (17/7/2020) memanggil Joko Sugianto. Sesuai surat panggilan, Sugianto diminta klarifikasi serta keterangan terkait kepemilikan rumah yang diserobot Padma. Undangan juga disampaikan kepada Wayan Padma. Sayang, pihak Padma saat dipanggil Rabu lalu bersama Pujiama mangkir. Sedangkan Pujiama diwakili tim kuasa hukumnya, Wihartono. (yan)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini