Pelukis Kontemporer Batuan, Wayan Bendi Berpulang

0
34
Pelukis Kontemporer Batuan, Wayan Bendi Berpulang
Wayan bendi (alm)

Gianyar, DenPost

Maestro lukis kontemporer gaya Batuan, Sukawati, Gianyar,  I Wayan Bendi meninggal dunia di Rumah Sakit Puri Raharja Denpasar, Rabu (15/7) sekitar pukul 23.30 Wita. Pelukis kelahiran tahun 1950 ini berpulang d iusia 70 tahun. Almarhum meninggalkan dua orang istri, 4 orang anak dan 9 orang cucu. Prosesi pengabenan  Wayan Bendi  berlangsung  Kamis (16/7) sore di Setra Pura Dalem Sukaluwih, Desa Adat Batuan, Kecamatan Sukawati, Gianyar.

Adik almarhum, I Ketut Sadia mengatakan almarhum memang memiliki riwayat sakit gagal ginjal dan komplikasi jantung sejak 3 tahun terakhir. Selama itu, Bendi rutin melakukan cuci darah dua kali seminggu. Termasuk sebelum menghembuskan nafas terakhir, almarhum sempat cuci darah pada Rabu (15/7) pagi di RS Puri Raharja.

“Pagi seperti biasa cuci darah, setelah itu pulang ke rumah. Malam hari tiba-tiba drop, langsung dilarikan ke RS Puri Raharja,” jelas Ketut Sadia yang juga seorang pelukis. Kematian Bendi karena faktor usia dan sakit yang begitu berat diderita bertahun-tahun. Kepergian almarhum menyisakan duka mendalam bagi keluarganya. Seminggu sebelum tiada, Bendi masih sempat melukis.

Baca juga :  Pukul Anjing, MW Diadili

Semasa hidup, Bendi dikenal cukup aktif bermasyarakat. Ia sempat menjabat Kelian Banjar Pekandelan, Prajuru Ageng Pura Dalem Sukaluwih; Bendesa Adat Batuan sejak tahun 2010-2015. Dari 14 bersaudara, Wayan Bendi menggeluti dunia lukis bersama 4 orang saudaranya yang lain. Saudara Wayan Bendi yang juga pelukis masing-masing I Ketut Sadia, I Wayan Diana, I Made Geriyawan dan Ni Nyoman Merti. “Pada dasarnya kami semua bersaudara bisa melukis, mewarisi almarhum orang tua I Wayan Taweng. Tapi yang memang menekuni ada 5 orang,” jelas Ketut Sadia. Termasuk anak almarhum I Wayan Eka Budi juga menekuni seni lukis gaya Batuan.

Baca juga :  Puluhan Warga Datangi DPRD Gianyar, Bentangkan Spanduk “Eksekusi No, Bersatu Yes"

Karya-karya lukis Bendi telah dikenal seantero Bali. Cukup banyak yang menjadi penghuni museum seni lukis. Sebut saja salah satunya Museum Rudana, Ubud. Beberapa lukisan Wayan Bendi, juga menjadi koleksi dunia. Salah satunya di sebuah gedung konferensi di Jepang.

“Tema lukisannya dominan tentang kehidupan dan pariwisata Bali. Yang di Jepang, lukisan dengan ukuran 60 cm x 3 meter dipindahmediakan ke keramik. Ukurannya diperbesar menjadi 3 meter x 9 meter. “Banyak karya almarhum menjadi koleksi museum baik di dalam maupun luar negeri,”kenang Ketut Sadia.

Semasa hidup, Bendi menikah 3 kali. Dengan istri pertama (almarhum Ni Wayan Rapeg) dikaruniai 1 orang anak. Dengan istri kedua Ni Made Meji dikaruniai 2 orang anak, dan dengan istri ketiga Ni Wayan Sulasih dikaruniai 1 orang anak.

Baca juga :  Polda Hentikan Pengusutan Pengadaan Xpander

Bendi lahir dalam lingkungan keluarga pelukis tradisional Desa Batuan, Sukawati, Gianyar namun memiliki karakteristik berbeda dalam berkarya. Ia begitu larut dalam dunianya sebagai pelukis meski tidak mengenyam pendidikan akademis.

Bendi begitu berani memasukkan hal dianggap tabu pada lukisan tradisional. Hingga dikatakan pada tahun 1980-an menemukan diri sejatinya sebagai pelukis tradisional kontemporer. Karya-karyanya membuat detak kagum dunia internasional. Bendi sering kali diundang melukis pergi ke luar negeri. Seperti negara Eropa, ke Jepang, Amerika, Kerajaan Malaysia dan negara-negara lain di dunia.(116)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini