Proyek Jalan “Caplok” Hutan Lindung, Pemerintah Diminta Tak Lakukan Ini

0
5
Proyek Jalan “Caplok” Hutan Lindung, Pemerintah Diminta Tak Lakukan Ini
CEK PROYEK - Sejumlah warga Desa Sakti, Nusa Penida, Klungkung mengecek proyek jalan yang telah dihentikan karena disinyalir memanfaatkan TN, Senin (20/7/2020).

Semarapura, DenPost

Kasus pemanfaatan tanah negara untuk kepentingan oknum tertentu tidak pernah sepi terjadi di Nusa Penida, Klungkung. Kali ini, sejumlah warga mempertanyakan pembuatan badan jalan yang disinyalir memanfaatkan Tanah Negara (TN) yang berfungsi sebagai hutan lindung di Dusun Sakti, Desa Sakti, Nusa Penida. Tokoh masyarakat Desa Sakti, Nengah Setar meminta agar pemerintah tidak tebang pilih dalam menyikapi persoalan tersebut.

Alasan Nengah Setar meminta pemerintah tidak tebang pilih bukan tanpa dasar. Karena tanah miliknya seluas 47 are yang sudah bersertifikat di Banjar Penida, Desa Sakti dekat sumber mata air Penida justru dinilai berstatus tanah kehutanan sehingga dia harus berurusan dengan pihak kepolisian. Di sisi lain, tanah negara  yang berfungsi sebagai hutan lindung di Dusun Sakti justru dibabat dipakai jalan oleh oknum kelompok tertentu. Proyek jalan yang berada di atas Pura Segara Penida ini juga telah dihentikan pemerintah karena berstatus TN.

Baca juga :  Diskes Klungkung Rapid Test ODP di GOR Swecapura

“Terus terang saya menuntut keadilan terkait hal ini. Katanya koar-koar bilang menjaga kesucian pura. Tapi kenyataannya buat jalan di atas pura. Kalau hal ini dibiarkan maka kami khawatir nanti Pura Segara Penida tertimpa longsor,” ujar Setar.

Sebagai tokoh masyarakat, Nengah Setar mengatakan bersedia memberikan tanahnya jika diminta pemerintah untuk kepentingan masyarakat. Bahkan dia rela melepas tanahnya jika pemerintah juga berlaku adil. Karena ada juga tanah di sekitar miliknya yang disinyalir TN sudah bersertifikat.

Baca juga :  Buang Limbah Sembarangan, Usaha Potong Ayam di Gelgel Ditertibkan

“Jangan tanah saya saja dipersoalkan. Bagaimana dengan tanah yang lain di sekitar tanah saya. Semuanya juga harus diusut. Kalau tanah kehutanan harus diperuntukan untuk kehutanan, jangan dibabat dipakai proyek,”  pintanya.

Sementara itu, salah seorang warga, Wayan Sugik(30) mengatakan, dulu orangtuanya, Wayan Danta yang menggarap TN di sekitar proyek jalan menuju Batu Mejineng tersebut. TN tersebut dulu ditanami jagung dan singkong. Namun sejak orang tuanya meninggal tanah tersebut tidak tergarap. Malah pihaknya mengaku tidak tahu proyek jalan tersebut diperuntukan untuk apa karena tidak ada sosialisasi.

Baca juga :  Pasar Galiran Kembali Dibuka 24 Jam

“Saya tidak tahu apa. Tidak ada sosialisasi jadi belum jelas untuk digunakan apa jalan itu,” katanya.

Kadis Lingkungan Hidup dan Pertanahan Klungkung, AA Kirana ketika dimintai konfirmasi mengatakan akan melakukan pengecekan terlebih dahulu terhadap status tanah yang digunakan untuk proyek jalan tersebut. “Kami harus pastikan dulu apakah tanahnya Pemprov Bali yang punya, atau kabupaten atau Tanah Negara. Kami akan koordinasi nanti sama pihak Pemprov,” kata AA Kirana. (119)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini