Di Karangasem, Sampah Organik Diolah Jadi Hand Sanitizer dan Disinfektan

0
9
Di Karangasem, Sampah Organik Diolah Jadi Hand Sanitizer dan Disinfektan
SAMPAH ORGANIK - Petugas mempraktikkan cara mengolah sampah organik menjadi hand sanitizer dan disinfektan.

Amlapura, DenPost

Jika biasanya sampah organik rumah tangga, seperti kulit buah dan sayur hanya dibuang begitu saja, Yayasan Bali Kumara, di Desa Bungaya Kangin, Kecamatan Bebandem, Karangasem mengolahnya menjadi barang bermanfaat. Melalui proses fermentasi, sampah organik dapat diproses menjadi eco enzim, yang memiliki sejuta manfaat. Salah satunya dapat dipakai menjadi hand sanitizer dan disinfektan.

Pembina yayasan, yang juga konsen mengembangkan eco enzim sejak tahun 2017, dr. I Ketut Budiarta mengungkapkan, membuat eco enzim sangat mudah. Hanya memerlukan tiga bahan yaitu gula aren atau molase,  sampah kulit buah atau sayur, serta air. Seluruh bahan berbanding 1:3:10. Artinya 1 berat gula aren atau molase berbanding 3 berat sampah organik dan berbanding 10 berat air. “Molase dapat mudah didapat di toko pertanian. Biasanya digunakan untuk taburan pakan sapi pada rumput. Harganya juga setengah harga dari gula aren,” ungkapnya.

Baca juga :  Jelang Hari Idul Fitri, Ini Imbauan Bupati dan Wabup Karangasem

Selanjutnya, sampah di potong sampai berukuran kecil. Setelah itu siapkan wadah yang terbuat dari plastik untuk proses fermentasi. “Sampah organik mengandung gas metana yang sifatnya polutan. Dalam proses fermentasi nanti gas metana akan diubah menjadi gas ozon yang ramah lingkungan, sehingga tidak disarankan menggunakan wadah kaca, karena bisa pecah. Di yayasan biasanya kami memanfaatkan botol air mineral bekas utuk wadah fermentasi,” jelas Budiartha.

Baca juga :  Sisir Anggaran Hingga Rp86,7 Miliar, Ini 7 Kebijakan Mas Sumatri

Setelah sampah organik dipotong, cairan molase atau gula aren dimasukkan ke satu wadah, lalu dicampur air. “Disarankan menggunakan air dari mata air. Jika tidak ada, dapat digunakan air PDAM, tapi harus diendapkan selama 3 hari agar kandungan kaporitnya hilang,” jelasnya lagi.

Setelah molase dicampur dengan air, langkah selanjutnya adalah mengocoknya hingga benar-benar tercampur rata. “Setelah tercampur barulah sampah organik dimasukkan. Setelah semua dimasukkan kembali dikocok agar rata tercampur,” imbuhnya.

Wadah lantas ditutup rapat, dan diberi label tanggal. Proses fermentasi akan berlangsung selama 3 bulan. Namun pada bulan pertama, tutup wadah dapat dibuka beberapa saat dan kembali ditutup. Hal ini bertujuan untuk mengeluarkan kandungan gas, agar wadah tak sampai meledak. Setelah itu tutup rapat kembali hingga bulan ketiga. “Setelah 3 bulan eco enzim sudah bisa dipanen,” katanya.

Baca juga :  Gali Tanah, Warga Labuan Temukan Minyak Seperti Solar

Untuk menggunakannya sebagai hand sainitizer dan disinfektan, 1 mililiter eco enzim dicampur dengan 400 mililiter. Campuran ini juga dapat dimanfaatkan untuk pembersih udara dengan dimasukkan ke mesin uap atau difuser. “Selain itu, eco enzim juga dapat dimanfaatkan untuk sabun mandi, shampo, cairan pencuci piring atau baju, obat kumur. Bahkan cairan ini juga mampu menjadi cairan anti tikus dan semut,”  pungkas Budiartha. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini