Upacara “Panca Yadnya” di Denpasar Wajib Terapkan Prokes

0
5
Picsart 07 21 05.49.20
Ketua MDA/Bendesa Madya Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana.

Denpasar, DenPost

Memasuki tatanan kebiasaan  normal era baru yang resmi berlaku serentak di Bali, 9 Juli lalu, membuka ruang aktivitas di beberapa sektor. Karena itu, Majelis Desa Adat (MDA) Kota Denpasar/Bendesa Madya Kota Denpasar, kembali menekankan pelaksanaan upacara panca
yadnya wajib untuk tetap menerapkan protokol kesehatan (Prokes).

“Walaupun telah dinyatakan kita saat ini memasuki era new normal, namun kondisi pandemi Covid-19 belum normal, masih terdapat penularan dan penyebaran, sehingga kepada semua umat Hindu yang ada di desa adat se-Kota Denpasar, dan umumnya di Bali wajib tetap melaksanakan protokol kesehatan,” kata Ketua MDA/Bendesa Madya Kota Denpasar, AA Ketut Sudiana, Selasa (21/7/2020).

Baca juga :  Warung Kaget KPRK Sasar Bangli, Suastini Koster Salurkan Sembako

Ditambahkan Sudiana, penerapan prokes yang dilaksanakan dengan mempedomani keputusan bersama MDA Kota Denpasar, dengan Pemkot Denpasar tentang pelaksanaan upacara panca yadnya terkait kesiapsiagaan penanganan Covid-19, dan Pararem Desa Adat terkait Gering Agung Covid-19.

Sudiana juga menekankan kepada umat Hindu, termasuk umat lain supaya mengikuti imbauan ini. Mengingat, bisa jadi upacara keagamaan menjadi klaster baru penyebaran Covid-19, jika mengabaikan prokes. Hal ini mengingat masih minimnya kedisiplinan dalam pelaksanaan di lapangan. “Jika mengacu kepada tempat suci atau pura besar, baik Dang Khayangan maupun Sad Khayangan mungkin sudah maksimal penerapan protokol kesehatan, tapi ini khusus kepada pelaksanaan upacara panca yadnya di rumah atau di merajan keluarga ataupun paibon,” ujar Sudiana.

Baca juga :  208 ABK Datang Lagi, 85 Non-Bali Pulang Lewat Bandara

Secara rinci, Sudiana menjelaskan hal penting yang dapat menjadi acuan di masyarakat, yakni Pararem Gering Agung. Di mana, semua upacara panca yadnya yang bersifat ngawangun (direncanakan), seperti karya melaspas, ngeteg linggih, ngaben, N
ngaben massal, memukur, serta karya ngawangun lainnya supaya ditunda sampai dicabutnya status pandemi Covid-19.

Upacara panca yadnya selain yang bersifat ngawangun atau direncanakan, seperti pernikahan dapat dilaksanakan dengan melibatkan peserta yang terbatas sebanyak-banyaknya 25 (dua puluh lima) orang atau memperhatikan luas kawasan guna mendukung maksimalnya penerapan social dan physical distancing (jaga jarak), melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menyediakan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dan selalu menggunakan masker. (112)

Baca juga :  Pemijat Tewas di Poskamling, Dievakuasi Petugas Ber-APD

 

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini