Jangan Anggap Enteng Siasat Bandar Narkotika

0
9
Jangan Anggap Enteng Siasat Bandar Narkotika
Togar Situmorang dan Mochamad Khozin (DenPost/ist)

Begitu banyaknya para bandar di masyarakat, terutama di Pulau Bali, menyebabkan kian meningkatnya peredaran narkotika secara signifikan. Peredarannya dengan berbagai motif dan menggunakan modus operandi yang canggih guna menjerat masyarakat.

MENURUT Panglima Hukum, Togar Situmorang, S.H., M.H., M.A.P., modus operandi terbaru yang digunakan para bandar yakni media sosial (medsos), baik itu Whatsapp, Messenger, Instagram maupun Facebook. Selain itu, metode yang digunakan dan dinilai ampuh yakni sistem tempel.

Dia mengingatkan siasat para bandar narkotika ini tidak boleh dianggap enteng, karena mereka akan mengawali dengan bujukan, tawaran atau dari teman sebaya. Didorong rasa ingin tahu atau ingin mencoba sehingga beberapa orang mau menerimanya. Dari pemakaian sekali kemudian beberapa kali hingga akhirnya menjadi ketergantungan narkotika. Setelah itu menjadi ketergantungan, sehingga para pemakai mau melakukan atau membantu para bandar mengedarkan barang haram ini secara masif dan terorganisir.

‘’Kerugian yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkotika bagi individu dan masyarakat secara ekonomi sangatlah besar. Untuk pengobatan para penyalahguna narkoba juga memerlukan biaya yang tidak sedikit, belum lagi biaya rehabilitasi sosial untuk reintegrasi sosial,” tegas advokat yang sangat getol memerangi narkotika ini.
Melihat kerugian dan dampak buruk dari permasalahan tersebut, maka diperlukan suatu upaya yang terintergrasi dan sinergis dalam rangka memproteksi masyarakat terhadap bahaya narkotika dengan moto “Mencegah lebih baik dari pada mengobati’’.

Baca juga :  Didatangi Pol.PP, Korban Mafia Tanah Ketakutan

Togar Situmorang juga menyoroti peredaran narkotika di Indonesia, khususnya Bali, yang semakin masif. Pulau Dewata, yang merupakan destinasi pariwisata internasional, menjadi faktor pendukung maraknya peredaran gelap narkotika.
Perlu diketahui permasalahan peredaran narkotika ini bukan sebatas tanggung jawab polisi, tapi tanggung jawab bersama. Masyarakat harus berperan aktif membantu pemberantasan dan peredaran gelap narkotika karena dampaknya sangat dahsyat bahkan melebihi terorisme. ‘’Pengaruh narkoba bisa menghancurkan bangsa dan merupakan kejahatan luar biasa (exstra organary crime) sehinga penanganannya harus secara luar biasa juga,” tandas Togar Situmorang.

Baca juga :  Wagub Perjuangkan Tenaga Pariwisata Terima Relaksasi

Mengingat tingginya dampak peredaran gelap narkotika di kalangan masyarakat, maka usulan hukuman berat bahkan hukuman mati harus didukung bersama. Bila para bandar narkotika dinyatakan bersalah dan punya kekuatan hukum tetap, maka akan lebih bagus dikirim ke Nusa Kambangan sambil menunggu eksekusi mati bagi yang divonis hukuman mati. Hal ini tertulis dalam UU Narkotika yang menjelaskan adanya sanksi seumur hidup bahkan hukuman mati bagi para bandar narkoba. Dengan diterapkannya hukuman mati ini tentu saja menimbulkan rasa takut bagi para pengedar dan bandar.

Sebelumnya, Direktur Resnarkoba Polda Bali Kombes Mochamad Khozin mengungkapkan sejak merebaknya wabah corona, ada kencenderungan kasus penyalahgunaan narkotika meningkat. Salah satu faktor peningkatan itu, tambahnya, disebabkan faktor ekonomi. Lantaran tak ada pekerjaan, banyak warga menempuh jalan pintas dengan cara pengedarkan narkotika. “Tapi tak semua pemain baru. Ada juga pemain lama yang kami tangkap. Mereka memang sudah menjadi target operasi kami,” bebernya.

Baca juga :  Sutisari, Pemulung Tangguh yang Rawat Suami ODGJ dan Hidupi Dua Anak

Khozin menambahkan modus para tersangka mengedarkan narkotika juga kian inovatif yakni membungkus layaknya permen. “Barang bukti ekstasi dikemas menyerupai permen. Jika dilihat sepintas, maka orang tidak akan tahu kalau itu narkotika, kecuali dilakukan tes lab,” tegasnya.

Untuk diketahui Kapolresta Denpasar Kombes Pol.Jansen Avitus Panjaitan bersana jajarannya berhasil mengamankan 16 penyalahguna narkotika dengan 14 kasus yang ditangani dalam dua minggu pada Juli 2020. Barang bukti yang diamankan berupa sabu-sabu (SS) seberat 85,77 gram, ekstasi sembilan butir, ganja 432,39 gram, dan tembakau sintetis 3,44 gram. Penangkapan ini sebagai bukti kerja keras jajaran Polresta Denpasar yang tanpa henti-hentinya dibawah pimpinan Kasat Narkoba Kompol Mikael Hutabarat. Polres Badung menangkap tiga tersangka dalam waktu sebulan terakhir ini, dan aparat Dit.Resnarkoba Polda Bali membekuk tujuh tersangka sejak awal Juli. (yad/yan)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini