Residivis Kasus Narkotika Sempat Ajari Pengungsi Gunung Agung Buat Kerajinan

0
5
Residivis Kasus Narkotika Sempat Ajari  Pengungsi Gunung Agung Buat Kerajinan
BB DAN TERSANGKA - Kasatnarkoba Polres Badung Iptu I Nyoman Sudarma memperlihatkan barang bukti (BB) dan tersangka Muhamad Syarif. (DenPost/antarini)

Hampir sembilan tahun menghuni hotel prodeo (penjara) berbeda-beda di Bali akibat kasus narkotika, ternyata tak membuat Muhamad Syarif jera. Dia rupanya tak betah berlama-lama berada di luar bui. Setelah dua tahun menghirup udara bebas, pria berusia 36 tahun kelahiran Jakarta ini kembali berulah.

GARA-GARA kedapatan mengambil tempelan narkotika jenis ganja dan sabu-sabu (SS) di Jalan Merdeka, Banjar Gaga, Desa Taman Bali, Bangli, Selasa (21/7/2020), tersangka Syarif dibekuk Satuan Reserse Narkoba Polres Bangli. Saat itu polisi menyita barang bukti berupa dua linting ganja seberat masing-masing 0,58 gram dan 0,55 gram, dan dua lembar sobekan kertas rokok bekas lintingan ganja.

Polisi juga memperoleh satu plastik klip bening yang berisi serbuk kristal SS seberat 0,50 gram. SS itu disimpan tersangka di saku celananya. Kasatnarkoba Iptu I Nyoman Sudarma mengatakan pria yang beralamat di Jl. Kamboja No.27 A, Kelurahan Dauh Peken, Tabanan, itu adalah residivis kasus yang sama dan pernah mendekam di Lapastik Buungan, Susut, Bangli. Dia bebas tahun 2018 lalu. Tak sampai di situ, mantan napi ini sebelumnya ditangkap Polresta Denpasar dan oleh hakim, dia divonis 4 tahun penjara.

Baca juga :  Atlet Bangli "Ngambul", Diduga Ini Pemicunya

“Tersangka kala itu sempat dilayar dari Lapas Kerobokan ke Lapas Tabanan. Nah begitu sampai di Tabanan, dia kedapatan memasukkan batangan ganja ke dalam lapas,” sebut Iptu Sudarma.
Atas ulahnya, Syarif kembali diadili dan divonis 5 tahun penjara, sehingga dia mesti menjalani hukuman selama 9 tahun.

Hasil interogasi polisi, kurir sekaligus pengguna ini mengaku mendapat barang haram dari seseorang berinisial MS yang mendekam di Lapas Kerobokan. Dia diperintahkan menngambil paket narkoba di Bangli untuk dibawa ke Denpasar. “Jadi di sini (Bangli) dijadikan tempat untuk transaksi. Mungkin dianggap lebih aman dibandingkan Denpasar atau tempat lain. Indikasi itu sudah kami endus, sehingga begitu sampai di TKP, dia langsung kami sergap,”bebernya.

Baca juga :  Tes Cepat, 84 Pedagang Pasar Kidul Reaktif

Syarif kembali disangkakan Pasal 111 Ayat (1) UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan Pasal 112 Ayat (2) UU yang sama. Sejatinya dia dikenal sebagai napi yang berkepribadian baik dan rajin selama berada di Lapastik Bangli dahulu. Dia punya keterampilan/kerajinan tangan lewat otodidak sejak mendekam di Lapas Tabanan. Hal ini pula menjadikan Syarif diutus Kemenkumham Bali melalui Lapastik Narkotika untuk membantu para pengungsi Gunung Agung di Posko Pengungsian di Kubu, Bangli, tiga tahun lalu. Dia bersama 13 napi lainnya kala itu berbagi ilmu keterampilan di Posko Pengungsian Kubu. Mereka mengajar cara membuat sokasi atau keben dan tempat bunga ke para pengungsi. “Kami tidak punya apa-apa untuk diberikan, dan kami hanya bisa berbagi cara membuat kerajinan,” ungkap Syarif kala itu.
Syarif mengaku senang, karena diterima dengan baik oleh para pengungsi tanpa ada rasa takut. Apalagi semua pengungsi, termasuk kalangan anak-anak, bisa akrab dengan para napi. Syarif mengaku membuat kerajinan berbahan koran bekas secara otodidak. “Ada teman yang membuat kerajinan ini di Lapas Tabanan. Saya lalu coba-coba, dan ternyata bisa juga,” tuturnya.

Baca juga :  Golkar Sandingkan Subrata-Ngakan Kutha

Menurut Syarif, awalnya kerajinan yang dibuat berupa kapal laut. Melihat kenyataan di lapangan, dia terinspirasi membuat kerajinan berupa perlengkapan upacara seperti sokasi, bokor, dan tempat bunga. Sebanyak 80 persen penghuni LP Narkotika Bangli bisa membuat kerajinan seperti itu. Hasil karya mereka bahkan sudah dipasarkan, dan peminatnya cukup banyak. Pemasaran dibantu keluarga dan petugas lapas. Pesanan biasanya diambil saat jam besuk. ‘’Meski berada di dalam Lapas, kami bisa punya penghasilan,’’ tegas Syarif.

Dia mengangku tiap bulan meraih Rp1 juta dari keterampilan membuat kerajinan berbahan koran bekas. “Setelah nanti bebas dari penjara, saya akan melanjutkan pekerjaan membuat kerajinan koran bekas ini. Semoga ada modal nantinya,” ujarnya dulu. (way)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini