Bongkar Sindikat Mafia Tanah, Polda Fokuskan Kuitansi Palsu Wayan Padma

1
16
Bongkar Sindikat Mafia Tanah,  Polda Fokuskan Kuitansi Palsu Wayan Padma
BUKTI - Ketut Gede Pujiama memperlihatkan salah satu bukti kasus dugaan perampasan tanah di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Densel. (DenPost/ist)

Denpasar, denpost.id
Polda Bali mengintensifkan penyelidikan kasus perampasan tanah milik Ketut Gede Pujiama di Jalan Batas Dukuh Sari Gang Merak, Sesetan, Densel, yang diduga dilakukan sindikat mafia tanah. Penyidik Dit Reskrimum Polda Bali tengah mengecek keabsahan kuitansi jual-beli Padma ke Ketut Gede Pujiama. Hal itu dikemukakan Wadir Reskrimum Polda Bali AKBP Suratno.

“Kami sudah pelajari. Sekarang kami mengecek ke ahli apakah benar tahun itu sudah ada materai 6.000. Kan itu yang janggal,” ujarnya saat diwawancarai Jumat (24/7/2020).

“Jika dinyatakan oleh ahli bahwa memang tahun itu tidak ada, paling tidak akan menambah alat bukti bagi kami untuk menentukan arah penyidikan,” jelas Suratno.

Baca juga :  Tiga Pasien Corona Asal Bangli Sembuh

Pun dalam kasus ini, tambahnya, telah dilakukan pemeriksaan terhadap Wayan Padma. “Padma sudah dipanggil, kan ada dua perkara saling lapor. Padma melaporkan Joko, dan Pujiama melaporkan Padma. Untuk ke depan pun mereka akan kami panggil lagi,” imbuhnya.

“Yang jelas kami fokus mengejar keterangan ahli terkait kuitansi ini,” pungkas mantan Kapolres Buleleng ini.
Sedangkan AA Made Eka Dharmika, selaku kuasa hukum Ketut Gede Pujiama, mengapresiasi tindakan Polda Bali yang segera minta pendapat ahli untuk membuat terang dugaan kasus tindak pidana ini. “Selain kuitansi, keterangan seporadik seharusnya juga menjadi fokus utama, karena sejak tahun 1990 Padma tidak pernah tinggal dan menguasai tanah itu hingga patut diduga seporadik itu palsu,” tegasnya.

Baca juga :  PWI dan SMSI Bali Temui Kadis Kominfos, Ini yang Dibahas

Selain itu, Agus Sujoko dari LBH KAI Bali, selaku kuasa hukum Joko Sugianto, mengingatkan dalam kuitansi itu, selain materai, ada tanda tangan Pujiama yang diduga palsu. Isi kuitansi disangkal oleh Pujiama. Parahnya kuitansi yang digunakan keluaran tahun 2000 tapi dicoret angka duanya seolah-olah tahun 1990. “Kita apresiasi juga, penyidik yang fokus ke kuitansi. Namun ada bukti lain yang tidak kalah penting untuk membongkar adanya sindikat mafia tanah ini,” tegas Agus Sujoko.

Sekadar mengingatkan Pujiama melaporkan Wayan Padma lantaran diduga merampas tanah yang ditempati pengontrak dan pembeli sah Joko Sugianto. Padma berdalih telah membeli secara sah sesuai kuitansi pembelian tanggal 10 Maret 1190 dengan materai 6000. Berbekal kuitansi yang diduga palsu itu, Padma mengambil paksa tanah yang masih ditempati pengontrak. Sukses merampas 1 are yang kemudian dijual ke Albert John, Padma lantas menjual tanah lainnya ke Ni Wayan Wiwin, yang diikuti mengambil tanah yang dibeli Joko Sugianto yang sebagian dijual ke H. Dedik Sunardi dan Muhaji. Total tanah Pujiama yang dirampas sindikat Padma seluas 6,70 meter2 atau hampir 7 are. Kuatnya adanya keterlibatan mafia dalam kasus ini, baik Pujiama maupun Joko Sugianto, sudah minta perlindungan hukum ke Satgas Pemberantasan dan Pencegahan Mafia Tanah di Kanwil BPN Bali. (yan)

Baca juga :  Bobol ATM, Dua Warga Bulgaria Diciduk Polda Bali

1 Komentar

  1. Semoga polisi benar2 bisa menindak mafia tanah yang merusak tatanan kehidupan di Bali. Dengan adanya kasus seperti ini yang awalnya orang tidak berniat jual tanah akhirnya sampai jual lahan untuk biaya perkaranya. Yang ujung2 habis juga. Pihak BPN juga harus lebih bijak memproses sporadik atau pensertifikatan tanah masyarakat…saya salah satu korban juga yang masih berjuang..

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini