Lahan Dalam Sengketa, Anak Panti Terancam Telantar

0
35
Picsart 08 01 08.42.31
SOMASI - Ni Luh Wenten didampingi suaminya saat menunjukkan surat somasi untuk mengosongkan lahan Sabtu (1/8/2020) di Panti Asuhan Anak Domba Bali di Desa Tegal Linggah, Sukasada, Buleleng.

Singaraja, DenPost

Sebidang lahan dan bangunan Panti Asuhan Anak Domba Bali di Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Buleleng kini dalam sengketa antara pengurus lama dan baru. Kondisi ini membuat 16 anak penghuni panti terancam terlantar. Pengurus baru, Ni Luh Wenten, saat ditemui di lokasi Sabtu (1/8/2020) mengatakan, sebagai pengurus baru pihaknya mendapat mandat dan kuasa untuk mengelola Panti Asuhan itu pascapengurus lama diberhentikan.

“Saya bersama suami diberikan kuasa dari founder untuk mengelola panti ini agar tetap jalan. Sampai saat ini ada 16 anak asuh dari TK hingga SMK yang ditampung,” ucapnya. Founder sendiri berasal dari Jerman yang mempunyai 106 anggota dan sejak Panti Asuhan beroperasi tahun 2017 mendukung biaya operasional panti.

Baca juga :  Sejumlah Desa di Buleleng Tutup Akses Jalan

Dalam perjalanannya terjadi ketidakcocokan antara pihak founder dengan pengurus panti yang berujung penggantian pengurus. Namun demikian, sertifikat lahan masih atas pengurus lama karena memang WNA tidak bisa membeli lahan. “Nah karena pengurus sudah berganti, kami pun meminta agar sertifikat itu dikembalikan ke Panti Asuhan karena founder membiayai untuk panti, bukan pribadi,” jelas Ni Luh Wenten.

Setelah itu, muncullah surat laporan penyerobotan lahan dari pengurus lama yang memang serifikatnya atas nama dia. Pihak kuasa hukumnnya pun mengirim somasi ke Panti Asuhan untuk mengosongkan lahan hingga tanggal 30 Juli 2020. “Kami kasihan dengan anak-anak yang sudah betah di sini, nah sekarang kita disuruh mengosongkan lahan, bagaimana nasib anak-anak ini,” imbuhnya.
Dia pun berharap, ada soluasi yang terbaik untuk anak-anak ini.

Baca juga :  Buang Sampah Sembarangan, Dua Oknum PNS Ditipiring

Sementara itu, pihak kuasa hukum dari pengurus lama, Wira Sanjaya dari Firma Hukum Global Trus saat dimintai konfirmasi membenarkan pihaknya sudah mengirim somasi. “Sudah jelas klien saya yang tertera dalam sertifikat dengan yayasannya. Nah sekarang ada yang menempati dengan yayasan yang baru, kan lucu jika dia menggugat klien saya memasalahkan lahan itu,” ucapnya via telepon.

Wira Sanjaya pun sudah berbesar hati memberi tenggang waktu karena tahu ada anak-anak panti. “Kalau saja tidak ada anak-anak panti, sudah saya gembok itu bahkan saya las,” ucapnya. Dia menyebut, kliennya tak keberatan jika Panti Asuhan itu beroperasi dengan pengurus baru. Namun karena lahan itu digunakan dengan izin yayasan yang baru tentu beda masalahnya. “Kita tetap membuka ruang negosiasi untuk masalah ini, kasihan anak-anak penghuni panti. Kita sudah toleransi kok,” imbuh Wira Sanjaya. Menurut rencana, Senin (3/8/2020) akan kembali menjajagi lokasi untuk membuka ruang negosiasi dengan pengurus yang baru.(118)

Baca juga :  Rekonstruksi Penganiayaan Buruh Proyek, Korban Sempat Alami Perlakuan Begini

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini