Ingin Tetap Sekolah, Remaja Asal Amertha Buana Nyambi Jadi Buruh Perkebunan

0
6
Picsart 08 05 04.58.06
Ni Luh Sindiari

Amlapura, DenPost

Kerja keras untuk dapat menuntaskan pendidikan di Bangku SMA dirasakan Ni Luh Sindiari. Remaja asal Banjar Sukaluwih, Desa Amertabuana, Kecamatan Selat, Karangasem ini harus berjuang di paruh waktu belajarnya untuk menjadi buruh di perkebunan Kawasan Dusun Ancut, Desa Sebudi, Karangasem.

Beban biaya sekolah yang kini bertambah dengan biaya internet dalam pembelajaran online, membuat buah hati pasangan I Ketut Karwi, dan Ni Kadek Sutami ini, harus lebih bekerja keras. Pasalnya, kedua orang tua yang hanya menjadi pekerja serabutan tak bisa menjaminnya dapat menuntaskan pendidikan di bangku SMA.

“Ya, saya masih beruntung bisa sekolah sampai SMA. Adik saya malahan tidak sempat mengenyam bangku sekolah, karena memang orang tua tidak punya biaya,” tutur Sindi, ditemui, Rabu (5/8/2029).

Baca juga :  Pulang Ke Desa, Gede Dana Serahkan Bantuan Paket Kebutuhan Pokok

Sindi merupakan anak pertama dari dua bersaudara. Perekonomian keluarga yang tak mumpuni dalam biaya pendidikan, membuat orang tuanya hanya bisa menyekolahkannya. “Untuk tidak membebani orang tua, sejak kelas 3 SMP saya ikut orang tua bekerja jadi buruh di perkebunan. Sekali bekerja digaji 50 ribu. Tapi tidak tiap hari, menunggu panggilan,” ungkapnya.

Seluruh penghasilannya, dia gunakan untuk membiayai sekolahnya. Seperti membayar SPP, uang buku pelajaran, bekal sekolah dan kini juga harus mengcover biaya internet. “Paling tidak sebulan untuk internet habis Rp50 ribu. Saya berusaha pakai hanya untuk belajar saja,” tuturnya Sindi.

Baca juga :  Pelabuhan Padang Bai Sepi, Hanya Beberapa Truk yang Nyeberang

Bekerja keras sambil belajar tak menjadi masalah untuknya. Sebab, masih bisa bersekolah dalam keterbatasn ekonomi sudah membuatnya amat bersyukur. “Saya tidak berani bercita-cita terlalu tinggi. Yang penting setelah tamat saya bisa bekerja dan membahagiakan orang tua dan adik saya,” tutur siswa SMA Slua Saraswati Selat ini.

Kini di tengah pandemi Covid-19 yang pembelajaran harus dilakukan secara daring, semangat belajarnya sedikit mendapat kendala. “Selain biaya internet, pembelajaran yang sulit dimengerti karena tak dijelaskan secara langsung, serta tugas yang cukup banyak membuat saya sedikit kelabakan,” ungkapnya. Sehingga kadangkala, ia kesulitan membagi waktu antara mengerjakan tugas dan bekerja di perkebunan. “Bekerja harus cepat, karena tugas yang cukup banyak. Kadang saya kekurangan waktu untuk mengerjakan,” imbuhnya.

Baca juga :  Pendaftaran Calon Dibuka 4 Sampai 6 September, Lidartawan Minta Ini

Sementara itu, Ibu Sindi, Ni Kadek Sutami menuturkan perbulannya ia dan suaminya hanya berpenghasilan kurang lebih Rp1 juta. “Itu untuk keperluan dapur. Sehingga kami terpaksa tidak menyekolahkan anak kedua kami. Ditambah ia memang tak ingin sekolah, dengan alasan tak ingin membebani kami,” tuturnya. Bahkan anak kedua Sutami dengan iklas membantu bekerja di ladang orang untuk membantu biaya sekolah anak pertamanya. “Ya, mau bagaimana lagi, ” ungkap Sutami pasrah. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini