Melirik Potensi Ubi Aung, Lahan 3 Are Bisa Hasilkan Rp 7 Juta

0
11
Picsart 08 07 02.20.59
UBI AUNG - Salah satu petani ubi aung saat memanen ubi di perkebunan di Dusun Ancut, Desa Sebudi, Karangasem.

Amlapura, DenPost

Ubi aung terdengar asing di telinga sebagian orang. Ubi yang penampilannya mirib ubi keladi (talas) ini mempunyai tekstur daging yang lebih lembut. Ubi aung banyak dibudidayakan di kawasan perkebunan Desa Sebudi. Khususnya di Dusun Ancut, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Karangasem.

Rasanya yang istimewa ditambah tak banyak yang membudidayakan membuatnya dibandrol dengan harga cukup tinggi. Yaitu antara Rp 15-18 ribu per kilonya. Perawatan tanaman merambat ini juga amat mudah tak memakan biaya tinggi, sehingga membuat petani ubi aung mengaku untung besar.

Baca juga :  Ingin Tetap Sekolah, Remaja Asal Amertha Buana Nyambi Jadi Buruh Perkebunan

Hal tersebut diungkapkan salah seorang petani ubi, Nyoman Pepek. Ditemui saat memanen ubi aung beberapa waktu lalu, ia menuturkan, pandemi covid-19 tak berpengaruh banyak pada pemasaran hasil panennya. “Sejak covid-19 memang harganya sedikit turun. Yang semula Rp 18 ribu jadi Rp 15 ribu. Tapi tetep lancar diambil suplayer,” tutur bapak 8 anak ini.

Nyoman mengembangkan ubi aung di lahan seluas 3 are. Dalam kurun waktu 6 bulan, ia dapat memanen paling sedikit 300 kilogram dengan omset rata-rata Rp 7 juta. “Di wilayah sini sedikit yang mengembangkan. Kalau tidak salah hanya tiga orang saja,” tuturnya.

Baca juga :  Warga Karangasem Keluhkan Bangkai Babi yang Dihanyutkan ke Sungai

Ditanya perihal perawatan, Ia mengaku sangat mudah. Bahkan menghasilkan ubi aung dengan kualitas unggul tak perlu banyak upaya. “Cukup pakai pupuk kandang. Saya biasa pakai pupuk kandang dari kotoran sapi. Pasti subur,” ungkapnya. Ditambah, kondisi Dusun Ancut yang berada di lereng Gunung Agung, membuat hawa dingin cocok dalam mengembangkan tanaman jenis ubi. “Tapi kalau di tanam di dataran rendah pun tidak masalah,” ungkapnya lagi.

Ubi aung dari lahan Nyoman Pepek biasanya tak hanya dipasarkan di kawasan Karangasem saja. Namun juga dikirim hingga ke Denpasar dan beberapa kabupaten lainnya. “Kadang ada yang beli untuk oleh-oleh sanak keluarga yang jauh. Karena ubi ini khas, dan rasanya yang enak,” ungkapnya.

Baca juga :  Hujan Lebat di Karangasem, 25 Pohon Tumbang

Dengan penghasilan dari bertani ubi aung, Nyoman mampu hidup mandiri di hari tua. Selain itu, bertani ubi aung yang tak perlu banyak perawatan, sangat cocok untuk mengisi waktu hari tuanya. “Saya punya 8 anak semua perempuan semua sudah menikah. Ini untuk mengisi hari tua saya,” pungkasnya. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini