Lahan Terkikis Abrasi, Petani Garam Kusamba Sulit Berproduksi

0
10
Picsart 08 11 04.33.12
GARAM - Ketut Kaping ketika sedang mencari air laut yang akan digunakan untuk membuat garam, Selasa (11/8/2020).

Semarapura, DenPost

Nasib petani garam di Desa Kusamba, Dawan, Klungkung kian terjepit. Selain jumlah petani garam terus menyusut, lahan penggaraman yang mereka garap juga mulai terkikis abrasi. Kondisi ini membuat petani tidak maksimal memproduksi garam. Apalagi hasil produksi garam mereka sudah ada yang beli dari koperasi yang diajak kerjasama Pemkab Klungkung  untuk membuat garam beryodium. Tapi mereka tidak mempunyai stok garam.

Seperti dialami petani garam, Ketut Kaping. Pihaknya mengaku saat ini tidak maksimal memproduksi garam lantaran lahan yang digunakan untuk membuat garam di tepi pantai telah terkikis abrasi. Sebelumnya, dia mengaku sempat menggarap lahan sekitar 14 are untuk membuat garam. Tapi sekarang lahan yang digarap hanya tersisa sekitar tiga are akibat terkikis abrasi.

Baca juga :  Pelajar SMP Di Denpasar Tetap Belajar dari Rumah

“Dulu kami menggarap lahan penggaraman sampai 100 meter ke selatan. Tapi sekarang semakin sedikit karena dikikis abrasi,” ujar Ketut Kaping ketika ditemui di lokasi penggaraman, Selasa (11/8/2020) siang.

Menurut Kaping, tidak hanya abrasi yang menjadi persoalan dalam memproduksi garam. Tapi gelombang besar dan sinar matahari juga membuat dirinya tidak maksimal memproduksi garam. Karena jika cuaca mendung, dia hanya maksimal bisa membuat garam sebanyak 10 kilogram. Beda ketika ada sinar matahari, dirinya bisa memproduksi garam sampai 15 kilogram per hari. Bahkan sebelum abrasi, dia mampu memproduksi garam sampai 40 kilogram perhari.

Baca juga :  Coba Masuk Bali, Warga Asal Daerah PSBB Dipulangkan

“Gelombang besar juga menjadi kesulitan kami membuat garam. Seperti yang terjadi satu bulan lalu lahan garapan kami  diterjang gelombang besar. Bahkan menghancurkan gubuk serta alat-alat untuk membuat garam,” tuturnya sedih.

Ketut Kaping mengakui pascagaram tradisional buatan petani setempat dipasarkan dalam bentuk produk kemasan “Uyah Kusamba”, permintaan garam memang meningkat. Untuk  garam kualitas terbaik dijual ke koperasi seharga Rp 10 ribu per kilogram. Sedangkan untuk garam kelas duanya dijual ke pasar.

“Sekarang ada order dari Denpasar, tapi saya tidak punya stok garam karena lahan untuk buat garam sedikit,” imbuhnya, seraya mengatakan dulu garam buatannya juga dipasarkan hingga ke mancanegara seperti Italia, Jepang, Australia, serta Rusia.

Baca juga :  Koster Tegaskan Perawat Tak Diberi Insentif

Meski dalam kondisi terpuruk seperti sekarang ini, Ketut Kaping mengatakan dirinya tidaklah putus asa. Dengan berbagai upaya ia berusaha untuk memperbaiki gubuk dan juga alat-alat pembuatan garam yang rusak. Total sudah Rp 10 juta biaya yang dikeluarkan. Beruntung, sebelumnya Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta sudah memberikan bantuan, sehingga bisa mengurangi biaya yang dikeluarkannya.

“Selain pakai uang pinjamam, ada juga dibantu Pak Bupati dari uang pribadi Rp 3 juta,” pungkasnya.  (119)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini