Perajin Rindik Tetap Berkarya Walau Tak Ada Pembeli

0
5
Picsart 08 13 03.37.12
RINDIK - Perajin Rindik, Ketut Wisna, tetap berproduksi walau lima bulan terakhir tak ada yang membeli hasil karyanya.

Amlapura, DenPost

Selain terkenal dengan pusat perajin perak, di Banjar Pande Mas, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Karangasem juga terdapat perajin rindik dan angklung yang telah berproduksi belasan tahun. Mudah mendapatkan bahan baku dan diproduksi langsung oleh seniman rindik, tak membuat potensi ini dapat berkembang. Selain kurangnya kemampuan dalam pemasaran, minat anak muda berkecimpung dalam seka rindik menjadi penghambat kerajinan rindik untuk berkembang.

Hal tersebut diungkapkan Ketut Wisna. Ditemui, Kamis (13/8/2020), Wisna yang juga seniman rindik mengaku tetap berproduksi walau pemasaran sangat sulit dilakukan. “Jika saya berhenti berproduksi di usia saya yang sudah tua, saya takut rindik di Budakeling ini akan punah,” ungkapnya. Padahal saat masa mudanya, Wisna merupakan salah satu anggota seka rindik di Banjar Pande Mas, yang sempat eksis pada zamannya. “Dulu ada seka joged. Tapi sekarang sudah bubar karena personel sudah tua, tak ada yang meneruskan,” ungkapnya.

Baca juga :  Babi Mati Masih Terjadi, Distan Karangasem Ingatkan Peternak Disiplin Ini

Dia menambahkan, biasanya hasil produksinya dipasarkan ke sekolah-sekolah digunakan sebagai media pembelajaran, atau di hotel dan villa kawasan Candi Dasa. “Saya tidak buka toko atau jualan di tempat tertentu. Hanya dari mulut ke mulut. Ya, biasanya yang beli sekali akan membeli kembali ke tempat saya mengajak temannya,” ungkap Wisna.

Namun memasuki masa pandemi covid-19, Wisna, satu-satunya perajin rindik yang tersisa di kawasan ini harus menghadapi kenyataan pahit. “Biasanya dalam sebulan bisa menjual 4-5 rindik. Khususnya pada bulan Agustus dapat menjual 10 rindik yang dibandrol Rp 500 ribu, tapi sejak pandemi, sudah 5 bulan tak laku satu pun,” keluhnya.

Baca juga :  Ini Khasiat Arak Rasa Lemon Racikan Petani Arak Laba Sari

Kendati demikian, ia tetap optimis dengan tetap berkarya, sembari mengisi hari tuanya. “Saya bingung kalau diam. Biasanya saya juga bekerja sebagai buruh bangunan. Tapi juga sepi, sehingga saya putuskan tetap berproduksi. Urusan laku tak laku saya tetap optimis akan laku saat kondisi normal,” katanya.

Di usianya yang lebih dari setengah abad, Wisna punya harapan kecil kesenian rindik dapat kembali bangkit. Khususnya di Banjar Pandem Mas, Budakeling. “Saya berharap anak muda dapat melestarikan kesenian rindik. Ini warisan budaya yang harus kita jaga dengan melestarikannya,” harapnya. (yun)

Baca juga :  Subak Balepunduk Tak Maksimal Kembangkan Padi, Ini Penyebabnya

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini