Ayah Stroke, Pelajar 15 Tahun Jadi Buruh Demi Kuota Internet dan Hidupi Keluarga

0
6
Picsart 08 17 07.08.25
Komang Sugi

Amlapura, DenPost

Berkali-kali dia mengusap peluh yang bercucuran dengan bajunya. Walau bekerja sejak pagi hingga petang, sorot matanya terlihat iklas mengangkat barang dagangan bolak-balik ke sebuah mobil bak. Panas terik cuaca di Desa Seraya Timur, Karangasem tak membuat semangat Komang Sugi, pelajar 15 tahun ini gentar untuk tetap bekerja keras.

Kondisi ayahnya yang stroke sejak 3 tahun lalu, membuat dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Ditambah, dia harus tetap bekerja untuk bisa mengenyam pendidikan di bangku SMA.

Ditemui DenPost, beberapa waktu lalu, di rumahnya di Dusun Kangin, Desa Seraya Timur, hanya ada ayah Sugi, Made Sawer duduk lemas didampingi sang istri, Ni Ketut Landep. “Anak saya bekerja dari jam 8 pagi hingga jam 8 malam,” tutur Sawer.

Baca juga :  Di Besakih, Tawur Kesanga Digelar Seperti Biasa

Sejak pembelajaran online akibat pandemi Covid-19, Sugi memilih memanfaatkan waktunya untuk bekerja di salah satu toko sembako di dekat rumahnya. “Kondisi saya yang stroke sejak 3 tahun lalu, membuat saya tidak dapat bekerja. Istri saya semula menenun, satu kain dapat 100 ribu rupiah. Tapi sejak pandemi sudah jarang sekali dapat order,” ungkap bapak 35 tahun ini.

Kondisi ini, membuat anaknya terpaksa harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan biaya kuota untuk sekolah daring. “Beruntung ada salah satu yayasan yang membiayai SPP anak saya selama 6 bulan. Sekarang dia bekerja untuk keperluan keluarga dan untuk biaya kuota,” sambung Sawer.

Baca juga :  Bangunan Pasar Amlapura Bikin Pedagang Minder, Ini Penyebabnya

Ditemui terpisah di tempat kerja, Komang Sugi, mengungkapkan bekerja atas kemauannya sendiri. “Ya, mungpung ada waktu. Perhari saya dapat Rp50 ribu sampai Rp60 ribu. Cukup untuk biaya kuota sehari-hari. Dan bila ada sisa ditabung untuk biaya sekolah,” tutur anak bungsu dari 2 bersuara ini.

Bekerja selama 12 jam, tak membuat tenaga Sugi habis untuk belajar. “Saya terbiasa mengerjakan tugas sekolah malam hari sekitar jam 9,” tutur pelajar kelas 10 SMA 3 Amlapura ini.

Baca juga :  Dahulu Indah, Begini Kondisi Danau Yeh Malet Saat Ini

Tugas yang cukup banyak ditambah penjelasan yang harus dipahami hanya lewat membaca materi, kadang memang membuatnya sedikit bingung. “Ya, kadang capek juga habis bekerja seharian. Tapi saya harus tetap semangat dan menyelesaikan tugas,” imbuhnya.

Dalam sebulan, Sugi menghabiskan 20 GB kuota. Dengan nominal Rp65 ribu. “Itu hanya untuk belajar online saja. Mendownload materi dan mengirim tugas,” ungkap Sugi.

Tak berhenti berjuang, ternyata Sugi punya cita-cita yang ingin dia wujudkan. “Saya ingin menjadi polisi dan ingin menuntaskan pendidikan. Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya,” harapnya. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini