Protokol Pemakaman Covid-19 Beberapakali Ditolak, Kadiskes Ungkap Bahayanya

0
3
Picsart 08 18 05.31.50
BERI EDUKASI - RSUD Karangasem bersama aparat kepolisian saat memberikan edukasi kepada warga terkait pemakaman Covid-19.

Amlapura, DenPost

Beberapa Minggu terakhir di Kabupaten Karangasem, kerap terjadi penolakan pasien meninggal yang harus dimakamkan dengan protokol Covid-19. Kondisi ini, membuat keprihatinan Ketua Gugus Harian Penanganan Covid-19 Kabupaten Karangasem, I Gusti Bagus Putra Pertama.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem ini, menyatakan resiko penularan sangat rentan terjadi saat pemandian jenasah.

“Berbeda dengan penyakit lain, seperti HIV. Virusnyakan ada di darah. Jadi jika inangnya telah mati (meninggal) maka virus akan mati. Tapi Covid-19 kan ada di saluran pernapasan. Saat penderita meninggal akan mengeluarkan cairan dari lubang-lubang tubuh,” tutur Putra Pertama.

Cairan tersebut yang sangat rentan sebagai penularan pada prosesi pemandian jenasah.

Baca juga :  Begini Kesaksian Ardiantoro Sebelum KMP Dharma Rucitra III Miring

Lebih lanjut, dia menuturkan banyak penolakan keluarga pasien meninggal berdasar pada hasil swab yang belum keluar. Tak hanya itu, banyak keluarga pasien yang tak menyakini pasien meninggal terinfeksi Covid-19. “Jadi sesuai amanat UU, ada tiga kategori pasien meninggal yang dimakamkan sesuai protokol Covid-19,” ucap Putra.

Pertama, yakni pasien propable yang artinya memiliki gejala mengarah ke Covid-19, namun saat sudah meninggal belum sempat dites swab. Kedua, yakni pasien dengan suspek Covid-19, di mana memiliki gejala, punya riwayat kontak erat dengan penderita Covid-19 atau sempat berpergian ke zona merah Covid-19, namun hasil test swab belum keluar. “Nah yang ketiga adalah pasien dengan positif Covid-19. Hal ini dilakukan untuk melakukan pencegahan lebih awal adanya lonjakan kasus. Sebab, banyak terjadi sebelumnya pasien dengan gejala Covid-19 dimakamkan biasa yang berujung lonjakan kasus positif,” tuturnya.

Baca juga :  Kru Kapal yang Sandar di Padang Bai Diperiksa

Sementara Direktur RSUD Karangasem, I Wayan Suardana, beberapa waktu lalu mengungkapkan alasan pihak keluarga menolak dimakamkan dengan protokol Covid-19, rata-rata dengan alasan upakara agama. “Keluarga merasa sedih, tak melakukan prosesi pemandian jenasah, atau melihat terakhir kalinya keluarga meninggal,” ungkapnya.

Menyiasati hal tersebut, pihak RSUD Karangasem bahkan mengijinkan kelurga pasien menyaksikan atau ikut melakukan prosesi pemandian jenasah dengan menggunakan APD di RSUD. “Jika ingin menggunakan banten, kami fasilitasi di sini. Bahkan APD kami sediakan secara gratis,” ungkapnya.

Baca juga :  Gaet Wisatawan Lokal Keluarga, Tirta Gangga Tambah Ini

Kendati telah mengambil kebijakan demikian, pihaknya mengungkapkan masih saja ada upaya penolakan dari keluarga pasien. “Entah apa sebabnya, tapi kami terus berupaya untuk mengedukasi warga agar mengerti. Bahwa kami melakukan demi kebaikan bersama,” ucapnya.

Salah satu keluarga pasien meninggal yang sempat menolak dimakamkan dengan protokol Covid-19, mengaku menolak karena takut dikucilkan masyarakat. “Kami takut dikucilkan. Selain itu, takut di tracking dan isolasi. Dengan demikian kami tak bisa bekerja,” ungkap salah satu keluarga yang enggan menyebutkan nama. (yun)

Tinggalkan Komentar

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini